
26-02-2026
Produk petrokimia adalah salah satu bahan baku penting untuk berbagai industri, seperti industri farmasi, kimia, dan konstruksi. Secara umum, produk ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur kimia, perannya di industri, atau karakteristik pemurniannya.
Artikel ini membahas klasifikasi produk petrokimia dan aplikasinya pada sektor industri. Jadi, baca artikel ini hingga akhir!

Produk petrokimia adalah bahan kimia yang didapatkan dari pemrosesan minyak bumi dan gas alam. Berdasarkan struktur kimianya, produk petrokimia dapat dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu olefin, aromatik, dan gas sintetis. Adapun penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut:
Olefin adalah kumpulan hidrokarbon tak jenuh yang tersusun atas satu atau rangkap ikatan. Susunan ini membuat olefin lebih reaktif dan mudah diaplikasikan untuk banyak kebutuhan.
Olefin dibentuk dengan metode steam cracking dari cairan gas alam. Proses ini memecah hidrokarbon jenuh dengan uap bersuhu tinggi sehingga menjadi hidrokarbon tak jenuh atau memiliki berat molekul yang lebih ringan.
Contoh produk petrokimia ini adalah etilena, propilena, dan butadiena. Etilena adalah produk yang paling banyak digunakan di industri. Zat ini adalah komponen penting untuk membuat plastik polietilena, etilen glikol untuk membuat poliester, dan etilen oksida untuk membuat zat antibeku.
Kemudian, propilena adalah bahan baku untuk membuat plastik polipropilena dan akrilonitril untuk memproduksi serat akrilik. Contoh olefin lainnya adalah butadiena yang kerap digunakan untuk membuat karet sintetis dan nilon. Karet ini berfungsi sebagai bahan baku ban kendaraan, sedangkan nilon digunakan pada industri tekstil.
Hidrokarbon aromatik biasanya didapatkan dari proses reformasi katalitik nafta. Jenis hidrokarbon ini memiliki struktur molekul berbentuk lingkaran. Produk aromatik yang paling umum adalah toluena, xilena, dan benzena.
Sama seperti olefin, aromatik juga berfungsi sebagai bahan baku produk industri, seperti untuk membuat resin, serat sintetis, dan detergen. Benzena biasanya digunakan untuk membuat stirena, yaitu bahan baku plastik polistirena dan karet sintetis.
Lalu, toluena digunakan pada pelarut cat, perekat, dan thinner. Bahkan, toluena juga ditambahkan pada bahan bakar untuk meningkatkan rating oktan. Lebih lanjut, xilena lebih sering ditemukan pada plastik PET, yaitu bahan baku botol air minum dalam kemasan.
Terkait olefin dan aromatik, Chandra Asri Group sebagai perusahaan solusi kimia terkemuka di Asia Tenggara dan #YourGrowthPartner menyediakan olefin, poliolefin, dan aromatik untuk bahan baku industri.
Tidak hanya itu, solusi kimia kami juga didukung oleh anak perusahaan yang berbasis di Singapura, yaitu Aster, sehingga kami siap untuk memenuhi kebutuhan bahan dasar industri perusahaan Anda.
Chandra Asri Group menyediakan etilena, propilena, LLDPE, HDPE, stirena monomer, toluena, etilbenzena, dan masih banyak lagi untuk kebutuhan industri.
Gas sintetis (syngas) berasal dari pencampuran karbon monoksida dan hidrogen. Contoh produknya adalah metanol dan amonia. Amonia sering ditemukan pada cairan pendingin, produk pembersih rumah tangga, dan pupuk.
Kemudian, metanol bisa ditemukan pada zat antibeku, pelarut, dan bahan bakar. Selain itu, metanol juga menjadi bahan penting dalam pembuatan formaldehida untuk plastik dan resin.
Baca juga: 9 Hasil Olahan Minyak Bumi, dari Bensin hingga Nafta

Klasifikasi ini didasarkan pada fraksi minyak bumi yang bisa dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Fraksi minyak bumi didapatkan dari proses distilasi fraksional, yaitu memanaskan hidrokarbon minyak bumi hingga menyentuh titik didih tertentu. Berikut adalah penjelasanya:
Produk ini digunakan sebagai bahan baku untuk membuat zat kimia lainnya. Contoh produk petrokimia ringan adalah etilena, metana, dan etana. Ketiganya akan berupa gas pada suhu ruangan. Produk petrokimia ringan umumnya memiliki titik didih antara 80–90 derajat Fahrenheit, atau sekitar 26,7–32,2 derajat Celsius.
Produk petrokimia sedang umumnya digunakan untuk membuat bahan bakar kendaraan. Contoh produk petrokimia sedang adalah oktan (untuk bahan bakar kendaraan) dan kerosin (bahan bakar pesawat, pelarut, dan minyak tanah).
Produk petrokimia ini biasanya memiliki 15–18 atom karbon dan titik didih yang sangat tinggi hingga 750 derajat Fahrenheit, atau sekitar 400 derajat Celsius. Produk petrokimia berat biasanya digunakan untuk pemanas, pelumas, dan minyak untuk mesin. Fraksi minyak bumi paling berat adalah bitumen, yang dapat ditemukan pada aspal jalan dan sejumlah produk antiair.
Baca juga: Apa Itu Nafta Minyak Bumi? Ini Karakteristik dan Fungsinya

Produk petrokimia ini dibagi berdasarkan tahapan pemrosesan yang bisa memberikan nilai pada produk, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk akhir. Secara umum, rantai nilai industri dibagi menjadi produk primer, menengah, dan hilir.
Produk petrokimia primer adalah zat yang digunakan sebagai bahan baku petrokimia menengah. Contoh produk petrokimia primer adalah etena, propena, dan butadiena.
Produk ini didapatkan dari reaksi kimia produk primer sehingga menjadi produk turunan. Contohnya adalah etilena (produk primer) yang akan dipolimerisasikan hingga menjadi polietilena, yang kemudian digunakan untuk membuat produk akhir, seperti kemasan dan wadah makanan.
Produk petrokimia hilir merupakan produk akhir dari pengolahan minyak bumi dan gas alam. Produk ini dibuat pada segmentasi hilir dan didistribusikan ke pelanggan. Contoh produk petrokimia hilir adalah minyak tanah, bensin, pelumas, plastik, dan masih banyak lagi.

Manfaat produk petrokimia sangatlah luas karena perannya yang penting untuk berbagai macam industri. Berikut adalah sejumlah industri yang memanfaatkan produk petrokimia:
Demikian informasi tentang klasifikasi produk petrokimia yang bisa Anda pelajari. Dapat disimpulkan bahwa produk petrokimia merupakan komponen fundamental bagi beragam industri.
Jika perusahaan Anda membutuhkan produk petrokimia, pastikan untuk memercayakannya pada Chandra Asri Group dan Aster! Kunjungi laman resmi kami!
Baca juga: Pengertian Drilling dan Prosesnya di Sektor Minyak dan Gas