
27-03-2026
Di tengah era globalisasi yang semakin canggih ini, teknologi pengolahan air limbah pun semakin berkembang. Salah satu metode lanjutan yang dikembangkan adalah zero liquid discharge. Metode ini bertujuan untuk memaksimalkan pemulihan air sehingga lebih aman digunakan kembali.
Artikel ini membahas zero liquid discharge system dan mengapa penting untuk pengolahan air limbah. Temukan informasi selengkapnya berikut ini.

Zero liquid discharge (ZLD) adalah metode pengolahan air limbah tingkat lanjut yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa kontaminan cair dari fasilitas industri.
Berbeda dengan sistem pengolahan limbah industri konvensional, ZLD tidak membuang air limbah ke lingkungan, tetapi memulihkan dan mendaur ulangnya sehingga hanya tersisa residu akhir. Padatan ini kemudian dibuang atau dimanfaatkan kembali.
Oleh karena itu, ZLD dapat menjadi salah satu opsi teknologi pengolahan air limbah yang paling berkelanjutan dan ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan oleh industri.
Baca juga: 10 Teknik Penjernihan Air untuk Industri dan Air Minum

Saat ini, pencemaran lingkungan dan kelangkaan air menjadi perhatian banyak pihak karena dapat mengancam ekosistem dan kesehatan publik.
Dalam konteks ini, zero liquid discharge (ZLD) dapat membantu perusahaan untuk mematuhi regulasi pengolahan air limbah sehingga tidak mencemari lingkungan. Selain itu, berikut ini adalah alasan mengapa ZLD penting untuk diimplementasikan:
Sistem ZLD menghilangkan zat-zat berbahaya, seperti organisme, logam berat, dan padatan, sehingga air limbah yang dibuang aman untuk lingkungan, khususnya ekosistem air. Metode ini juga memastikan air limbah dapat digunakan kembali dengan cara yang paling efisien serta mengurangi dampak proses operasional terhadap lingkungan.
Alasan lainnya adalah konservasi air. Hampir semua sektor membutuhkan air untuk menjalankan operasionalnya. Agar industri bisa terus memasok air untuk kebutuhan manufaktur, perusahaan perlu mengelola air dengan efisien.
Salah satu strategi konservasi air industri adalah zero liquid discharge. Proses ini mengolah air limbah agar benar-benar bersih dan aman untuk digunakan kembali pada proses operasional. Padatan yang dihasilkan, seperti garam, juga bisa dimanfaatkan.
Karena bisa memanfaatkan air limbah secara ekonomi sirkular, perusahaan juga bisa menghemat biaya pembuangan air limbah.
Pengolahan dan pembuangan air limbah diatur dalam regulasi yang ketat di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Hal ini untuk mencegah kerusakan lingkungan dan pencemaran yang dihasilkan dari kontaminasi air limbah. Di Indonesia, tata cara pembuangan air limbah diatur dalam Permen LHK Nomor 5 Tahun 2021. Sementara itu, perlindungan mutu air diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 2021
Baca juga: Mengenal Water Treatment Plant, Cara Kerjanya, dan Jenisnya

Zero liquid discharge (ZLD) mengelola air limbah dalam beberapa tahapan, di antaranya:
Tahap pertama ZLD adalah pengolahan air limbah awal. Di sini, air diproses untuk menghilangkan padatan terlarut dan partikel besar menggunakan metode pengolahan air limbah konvensional, seperti filtrasi, pengolahan biologis, dan pengolahan kimiawi.
Tahap ini menyiapkan air limbah sebelum masuk ke mesin zero liquid discharge plant untuk mencegah kerusakan mesin akibat tersumbat partikel besar, pengerakan akibat sedimentasi mineral, dan kelebihan beban akibat air yang masih mengandung kontaminan.
Setelah diolah secara konvensional, air limbah akan disaring kembali menggunakan sistem filtrasi khusus atau reverse osmosis (RO). Proses ini memisahkan air dari partikulat yang masih lolos.
Tahap ini adalah proses utama ZLD yang memaksimalkan pemulihan air. Di sini, kontaminan diubah menjadi residu padat.
Proses evaporasi dimulai dengan memanaskan air limbah menggunakan evaporator khusus. Air akan berubah menjadi uap, sedangkan kontaminan dan mineral akan tetap menjadi cairan.
Kemudian, cairan kontaminan ini masuk ke proses kristalisasi, di mana cairan dipanaskan hingga partikel dan garam menjadi kristal padat. Kristal ini disaring, dikumpulkan, digunakan kembali, atau dibuang.
Residu padat, biasanya mengandung garam, mineral, logam berat, dan litium, harus diolah dengan bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Residu ini dapat dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) khusus yang telah mengikuti standar peraturan lingkungan. Perusahaan harus memastikan bahwa limbah padat yang dibuang tidak mengandung bahan berbahaya atau beracun.
Selain dibuang ke TPS khusus, residu ini juga bisa didaur ulang. Misalnya, pasir silika yang dimanfaatkan untuk membuat semen, garam untuk proses manufaktur, dan mineral untuk pembuatan pupuk tanaman.
Zero liquid discharge adalah terobosan baru untuk pengolahan air limbah yang lebih aman sehingga tidak mencemari lingkungan. Air limbah industri perlu diolah secara bertanggung jawab dan mengikuti regulasi yang ditetapkan agar ramah lingkungan dan bermanfaat bagi proses operasional.
Terkait pengolahan air limbah, Chandra Asri Group melalui perusahaan afiliasinya, yaitu Krakatau Tirta Industri (KTI) menawarkan solusi air yang mencakup pengolahan air limbah, penyedia air bersih, dan pemasok air demin.
KTI mengelola operation and maintenance Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biotreatment Blast Furnace Kompleks PT Krakatau Steel. Layanan ini memastikan kepatuhan terhadap standar kualitas lingkungan sekaligus memungkinkan pemanfaatan air limbah kembali untuk proses bisnis lainnya.
Pastikan air limbah industri Anda tertangani dengan aman, andal, dan sesuai standar bersama Chandra Daya Investasi dan Krakatau Tirta Industri, #YourGrowthPartner!
Baca juga: Apa Itu Air Suling? Ini Kegunaannya untuk Industri