Logo Chandra Asri
water footprint

29-06-2026

Water Footprint: Definisi, Jenis, dan Cara Menguranginya

Oleh Chandra Asri Group Editorial Team

Pernahkah Anda mendengar soal water footprint atau jejak air? Bukan berupa jejak tetesan air, water footprint adalah jumlah air yang digunakan industri pada proses manufaktur. 

Jejak air merupakan indikator lingkungan yang memantau dampak penggunaan air oleh manusia terhadap sumber air, termasuk penggunaan air industri

Artikel ini mengupas tuntas water footprint, termasuk definisi dan jenisnya. Oleh karena itu, cermati artikel ini hingga akhir untuk mempelajari informasi selengkapnya. 

Apa Itu Water Footprint

Apa Itu Water Footprint

Water footprint atau jejak air adalah indikator yang menentukan jumlah air yang digunakan untuk membuat produk atau menjalankan jasa. Jejak air bisa dihitung dari satu proses, satu produk, atau bahkan satu bisnis penuh. 

Water footprint dapat menunjukkan seberapa banyak air yang digunakan secara global dari sumber air tertentu. Water footprint juga menghitung penggunaan air secara langsung dan tidak langsung, termasuk polusi air yang dihasilkan, dalam satu siklus manufaktur hingga produk sampai ke konsumen. 

Dapat dikatakan bahwa air adalah bahan baku “tak kasat mata” di tengah bahan baku lainnya. Tanpa disadari, untuk membuat baju berbahan katun, ribuan liter air digunakan selama proses produksi, mulai dari membudidayakan tanaman kapas hingga proses pembuatan baju.

Dampak penggunaan air ini dapat dipelajari melalui konsep water footprint. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Arjen Hoekstra pada tahun 2002 ketika ia bekerja di IHE Delft Institute for Water Education. Kemudian, pada tahun 2008, ia membangun Water Footprint Network bersama rekan kerjanya. 

Mengapa Industri Perlu Memerhatikan Water Footprint?

Tujuan utama jejak air adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap banyaknya air yang digunakan dalam proses produksi dan dalam beraktivitas sehari-hari. 

Jejak air dapat menghitung berapa meter kubik air yang digunakan selama proses manufaktur atau berapa hektar lahan yang menggunakan air secara aktif. 

Harapannya, semakin banyak orang yang sadar ke mana air yang mengalir di dunia ini berakhir dan untuk apa air tersebut digunakan.

Dampak water footprint tergantung pada dari mana air diambil. Jika air diambil dari sumber yang sudah hampir mengering atau mengalami kelangkaan, dampaknya bisa sangat signifikan sehingga diperlukan aksi lanjutan untuk menjaga keberlanjutan sumber air.

Masalahnya, banyak negara dan daerah di dunia mengalami kelangkaan air serius. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Scientific Reports menjelaskan bahwa 55% negara di dunia mengalami kekurangan air. 

Padahal, industri dan manufaktur, sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi dan sosial, sangat bergantung pada ketersediaan air untuk menjalankan proses operasional dan rantai pasokan. 

Baca juga: Laporan Keberlanjutan Chandra Asri Group

Jenis-Jenis Water Footprint

Jenis-Jenis Water Footprint

Terdapat tiga jenis water footprint berdasarkan sumber air, yaitu green water footprint, blue water footprint, dan gray water footprintGreen dan blue water footprint menentukan jumlah air yang dikonsumsi, sementara gray water footprint menghitung tingkat polusi air. Berikut adalah penjelasan selengkapnya:

1. Green Water Footprint

Green water footprint adalah air yang disimpan di akar tumbuhan atau tanah, seperti air dari salju atau hujan. Jejak air ini digunakan untuk menghitung konsumsi air pada proses kehutanan dan pertanian. 

2. Blue Water Footprint

Blue water footprint adalah air yang bersumber dari air permukaan, seperti akuifer, sungai, dan danau. Jejak air ini relevan dengan aktivitas irigasi, rumah tangga, dan industri. 

3. Gray Water Footprint

Gray water footprint adalah jumlah air yang dibutuhkan untuk melarutkan polutan dari proses produksi agar konsentrasinya di bawah batas maksimum dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 

Cara Menghitung Water Footprint

Water footprint dapat dihitung menggunakan water footprint calculator atau alat lain yang didesain untuk menghitung jejak air. Untuk mendapatkan angka yang akurat, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi perhitungan water footprint, di antaranya:

  • Total air yang dikonsumsi. Biasanya, total air yang dikonsumsi berhubungan dengan aktivitas ekonomi. Semakin tinggi Produk Domestik Bruto (PDB), semakin besar jejak airnya. 
  • Kondisi iklim. Iklim yang menghangat dapat mempercepat penguapan air sehingga tanaman memerlukan lebih banyak irigasi agar bisa hidup atau membuahkan panen yang maksimal. 
  • Pola konsumsi. Kebiasan berbelanja sebuah kelompok masyarakat memengaruhi air yang dikonsumsi, terlebih jika produk yang diminati memerlukan banyak air dalam proses produksinya. 
  • Efisiensi proses pertanian. Lahan yang kurang produktif atau memiliki sistem irigasi yang kurang efisien biasanya membutuhkan lebih banyak air. 

Baca juga: Tahapan Pengolahan Air Bersih & Teknologi yang Dikembangkan 

Cara Mengurangi Water Footprint

Air merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Namun, penggunaan yang kurang bijak tentu dapat berdampak pada sumber air dan kelestarian lingkungan. 

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengurangi jejak air dengan melakukan beberapa inisiatif. Untuk individu, inisiatif dapat dimulai dari menghemat penggunaan air, mematikan keran ketika tidak dipakai, memakai air secara bertanggung jawab, dan menerapkan efisiensi air. 

Sementara itu, untuk industri dan bisnis, perusahaan bisa mengembangkan sistem pemantauan kualitas lingkungan, menerapkan digitalisasi untuk mengurangi penggunaan kertas, mendukung prinsip ekonomi sirkular, dan mengadakan kampanye keberlanjutan untuk menyatukan visi-misi seluruh karyawan tentang efisiensi energi. 

Komitmen Chandra Asri Group dalam Mengelola Sumber Daya Air

Chandra Asri Group, sebagai #YourGrowthPartner, memastikan bahwa penggunaan air untuk proses operasional tetap efisien dan limbangnya terolah dengan baik sesuai standar sebelum dikembalikan ke lingkungan. Adapun inisiatif Chandra Asri Group adalah sebagai berikut:

  • Mendaur ulang air menggunakan pellet conveying water system
  • Mengoptimalkan konsumsi uap. 
  • Menerapkan program nol kebocoran. 
  • Mengurangi penggunaan air tawar melalui sistem desalinasi. 
  • Mengoptimalkan penggunaan bahan kimia untuk mengurangi kadar polutan pada air. 
  • Memantau air limbah dengan SPARING,
  • Memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan air. 
  • Memasang fasilitas pengolahan air limbah di sekolah-sekolah di Cilegon, Banten. 

Lebih lanjut, melalui perusahaan asosiasinya, yaitu PT Krakatau Tirta Industri (KTI), Chandra Asri Group menyediakan solusi air yang mencakup penyediaan air bersih dan air demin untuk industri serta layanan pengolahan air limbah. 

Sebagai perusahaan solusi kimia, energi, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara, Chandra Asri Group tidak hanya fokus dalam memberikan pelayanan terbaik, tetapi juga menerapkan proses operasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. 

Baca juga: Apa Itu Pengembangan Sumber Daya Air dan Mengapa Penting?

Bagikan :