Logo Chandra Asri
levelized cost of energy

27-04-2026

Levelized Cost of Energy (LCOE): Cara Menghitung & Faktornya

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan energi terus meningkat. Banyak teknologi terus dikembangkan sehingga penggunaan energi semakin masif. Namun, energi tidaklah “gratis”. Ada biaya yang harus dikeluarkan agar bisa terus menggunakan energi.

Biaya atas penggunaan energi ini dapat dihitung dengan Levelized Cost of Energy (LCOE). Metrik ini biasa diimplementasikan pada industri dan pembangkit listrik. Artikel ini membahas cara menghitung LCOE dan faktor yang memengaruhinya. Jadi, cermati penjelasannya berikut ini. 

Apa Itu Levelized Cost of Energy (LCOE)?

Apa Itu Levelized Cost of Energy (LCOE)

Levelized Cost of Energy (LCOE) adalah formula untuk menghitung rata-rata biaya energi listrik yang dikeluarkan oleh sebuah aset selama periode pemakaiannya. Salah satu tujuan LCOE adalah untuk mempertimbangkan biaya operasional aset energi selama siklus hidupnya, termasuk biaya bahan bakar, pemeliharaan, dan modal. 

Perhitungan LCOE biasanya digunakan pada pembangkit listrik untuk menentukan daya saing proyeknya dan kelayakannya. Secara sederhana, LCOE membantu Anda untuk memperkirakan biaya yang harus dibayar oleh suatu pembangkit listrik agar bisa mencapai break-even point (BEP) selama masa pakainya. 

Lebih lanjut, LCOE juga berfungsi untuk membandingkan biaya dari berbagai sumber energi dan menilai pilihan yang paling efisien. Hal ini tentunya penting bagi stakeholder dalam memutuskan investasi di dalam industri. Hasil perhitungan LCOE juga dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan efisiensi operasional atau mengembangkan proyek energi baru. 

Mengapa Levelized Cost of Energy Penting?

Levelized Cost of Energy (LCOE) membantu developer, perusahaan, dan investor untuk menilai performa proyek energi. Tidak hanya itu, LCOE juga digunakan untuk menentukan perpindahan dari energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. 

Perlu diketahui bahwa seiring berjalannya waktu, kebutuhan energi terus meningkat. Data dari International Energy Agency menunjukkan bahwa pada tahun 2024, permintaan energi global meningkat sebesar 2,2%. Permintaan listrik juga meningkat 4,3% dari tahun 2023. 

Peningkatan permintaan itu salah satunya disebabkan oleh kenaikan suhu ekstrem pada tahun tersebut yang membuatnya menjadi tahun terhangat. Itulah mengapa penggunaan energi terbarukan, seperti PLTS dan pembangkit listrik lainnya, harus terus digalakkan. 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, LCOE membandingkan sumber energi dan proyek yang berbeda serta menentukan yang paling kompetitif. Alhasil, developer bisa mempertimbangkan modal, bahan bakar, kapasitas, dan risiko dari sejumlah teknologi pembangkit listrik, seperti tenaga surya, nuklir, gas, batu bara, dan angin. 

Penggunaan LCOE untuk menghitung biaya rata-rata pembangkit listrik atau aset energi lainnya sudah cukup luas, tetapi Anda perlu berhati-hati dalam menggunakannya karena hasil perhitungan mungkin tidak menggambarkan nilai proyek secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan LCOE tidak menghitung keandalan spesifik lokasi.

Baca juga: 12 Jenis Pembangkit Listrik sebagai Pilihan Energi Alternatif

Cara Menghitung Levelized Cost of Energy

Cara Menghitung Levelized Cost of Energy

Levelized Cost of Energy formula adalah total biaya seumur hidup aset energi dibagi dengan total pembangkitan energi selama masa pakainya. Awalnya, Anda perlu menghitung net present value (NPV) dari keseluruhan biaya operasional aset energi. 

Kemudian, bagilah nilai tersebut dengan total energi yang dihasilkan selama siklus hidupnya. Biaya operasional total dapat termasuk biaya investasi awal, biaya operation and maintenance, dan biaya bahan bakar (jika ada). Satuan LCOE adalah harga per unit listrik. 

Levelized Cost of Energy = NPV total biaya selama siklus hidup aset energi / NPV total energi yang dihasilkan selama siklus hidup aset energi

Sebagai contoh, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dibangun selama setahun dengan biaya Rp25 miliar. Setiap tahunnya, PLTS ini mengeluarkan Rp5 miliar untuk biaya operation and maintenance dengan tingkat pertumbuhan sekitar 2% per tahun.

PLTS ini diharapkan bisa beroperasi selama 15 tahun dan tidak memiliki biaya bahan bakar. Setiap tahunnya, PLTS ini diproyeksikan menghasilkan 3 juta kWh energi. Lalu, proyek ini memiliki tingkat diskonto sebesar 8%. 

Dari data tersebut, NPV total biayanya adalah Rp56.030.569, sementara NPV total energi yang dihasilkan adalah 17.352 kWh. Dengan rumus di atas, LCOE dari PLTS adalah Rp3.228,97/kWh. 

Faktor yang Memengaruhi Perhitungan Levelized Cost of Energy

Hasil perhitungan Levelized Cost of Energy (LCOE) ditentukan oleh sejumlah faktor, di antaranya:

1. Biaya Operation and Maintenance (O&M)

Biaya O&M digunakan untuk memelihara peralatan. Besarnya tergantung pada ukuran, teknologi, dan luasnya lokasi pembangkit listrik. Biasanya, biaya O&M pembangkit listrik berbasis energi terbarukan lebih rendah dibandingkan dengan energi fosil karena fluktuasi harga bahan bakar. Semakin besar biaya O&M, semakin besar nilai LCOE. 

2. Biaya Investasi Awal

Biaya ini mencakup semua pengeluaran untuk membangun aset energi. Semakin tinggi biayanya, semakin tinggi kontribusinya terhadap nilai efisiensi energi. 

3. Periode Analisis

Periode analisis dapat berupa masa hidup yang diharapkan dari sebuah aset energi. Jika melihat kembali contoh di atas, periode analisis PLTS tersebut adalah 15 tahun. 

4. Biaya Atas Modal

Biaya ini dapat berupa suku bunga yang dibayarkan atas pinjaman, biaya dari penjualan saham, dan penerbitan obligasi. Biaya atas modal adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pendanaan proyek. 

5. Faktor Kapasitas

Faktor kapasitas didapatkan dari perbandingan energi yang diproduksi oleh aset energi selama rentang waktu tertentu dengan energi yang diproduksi unit ketika beroperasi secara penuh selama periode tersebut. 

6. Biaya Bahan Bakar

Biaya ini hanya dihitung untuk unit yang membutuhkan bahan bakar, misalnya pembangkit listrik tenaga batu bara atau pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan uranium. 

7. Tingkat Diskonto

Tingkat diskonto adalah suku bunga yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan. Dalam analisis LCOE, tingkat diskonto memengaruhi daya tarik berbagai jenis pembangkit. 

Baca juga: Captive Power Plant: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

Pembangkit Listrik Andalan Industri dari Chandra Asri Group

Levelized Cost of Energy (LCOE) adalah metrik penting yang harus dipertimbangkan perusahaan untuk menentukan aset energi yang paling efisien. LCOE yang rendah berarti biaya yang dikeluarkan untuk proyek cukup efisien. Salah satu cara untuk mengurangi LCOE adalah dengan menggunakan sumber energi terbarukan. 

Terkait hal tersebut, Chandra Asri Group melalui Krakatau Chandra Energi (KCE) menyediakan solusi energi terbarukan berupa PLTS. Sebagai #YourGrowthPartner, KCE menawarkan empat mekanisme PLTS, yaitu Solar On-Grid, Solar On-Grid with Battery Back-Up System, Solar Off-Grid, dan Solar Hybrid

KCE telah merambah ke bisnis baru dengan membangun pilot project PLTS atap berkapasitas 102 kWp pada tahun 2020. Hingga tahun 2025, KCE berhasil mengembangkan PLTS hingga kapasitasnya mencapai 11 MWp. 

Jadi, Anda tidak perlu ragu memercayakan kebutuhan pembangkit listrik energi terbarukan untuk perusahaan Anda. Konsultasikan kebutuhan energi Anda dengan Chandra Asri Group dan Krakatau Chandra Energi!

Baca juga: 7 Contoh Energi Listrik dan Cara Menghasilkan Energinya