Logo Chandra Asri
berthing plan

24-04-2026

Mengenal Berthing Plan, Tujuannya, dan Faktor Penentunya

Dalam logistik kelautan, vessel bekerja untuk mendistribusikan barang dari satu titik ke titik lainnya. Ketika sampai di pelabuhan, kapal tidak bisa langsung “parkir” dan membongkar muatan. 

Perusahaan harus mengamankan tempat bertambat terlebih dahulu, atau berth. Itulah mengapa berthing plan penting agar kapal bisa bersandar dan membongkar muatan dengan aman tanpa terhalangi oleh kapal lainnya. Untuk mengetahui informasi seputar berthing plan, baca artikel ini hingga akhir. 

Sekilas tentang Berthing

Berthing

Sebelum mempelajari soal berthing plan, Anda perlu memahami proses berthing itu sendiri. Berthing adalah proses menavigasi kapal ke posisi yang sudah ditentukan di sepanjang dermagaBerth adalah tempat khusus di pelabuhan untuk berlabuhnya kapal. 

Di berth, kapal bisa melakukan bongkar muat barang. Biasanya, berth lebih panjang 10% dari ukuran kapal paling besar sehingga memudahkan kapal untuk bermanuver. Di sini, Anda juga menemukan pengikat, fender, dan bollard kapal yang berfungsi untuk melindungi kapal dan berth

Peran berth sangatlah penting dalam logistik kelautan. Bayangkan, kapal-kapal besar harus bisa bermanuver di area yang terbatas tanpa saling menyenggol atau menabrak infrastruktur pelabuhan. 

Waktu berthing juga berbeda untuk setiap kapal. Umumnya, proses ini memakan waktu sekitar 2–24 jam. Kapal kecil akan lebih cepat menyelesaikan proses berthing, sedangkan kapal yang lebih besar membutuhkan waktu yang lebih lama. 

Baca juga: 7 Fungsi Pelabuhan untuk Perdagangan dan Perekonomian

Apa Itu Berthing Plan?

Berthing plan adalah dokumen rinci yang menjelaskan rencana operasi untuk semua kapal yang akan bersandar di pelabuhan. Berthing plan atau rencana sandar berisi alokasi sumber daya lengkap untuk pelabuhan dan fasilitas sekitarnya. 

Untuk menyiapkan dokumen berthing plan, kepala operasional pelabuhan akan mengumpulkan informasi terkait kapal-kapal yang akan berlabuh dalam rentang waktu tertentu. Setiap kapal yang “memesan” berth di pelabuhan untuk hari tertentu akan langsung dicatat di sistem dan dialihkan ke tim operasional untuk ditambahkan ke berthing plan

Berthing plan harus dirumuskan dengan hati-hati agar logistik kelautan bisa berjalan dengan lancar. Setiap pelabuhan memiliki berth khusus bagi setiap kapal. Misalnya, berth untuk kapal tanker berlokasi agak jauh dari berth kapal penumpang. Hal ini memastikan kelancaran dan keamanan proses rantai pasokan.

Itulah mengapa setiap berth memiliki rencana sandarnya masing-masing. Meski begitu, setiap rencana sandar tetap berhubungan satu sama lain karena memiliki jalur laut yang sama. 

Jadi, berthing plan harus dirumuskan dengan efisien untuk menghindari kemacetan saat proses “memarkir” kapal. Setiap mesin dan alat di pelabuhan harus sudah siap digunakan ketika kapal datang dan bersandar sehingga kapal tidak perlu menunggu lagi ketika hendak membongkar muatan. 

Tujuan Berthing Plan

Tujuan Berthing Plan

Tujuan berthing plan adalah untuk memastikan infrastruktur pelabuhan digunakan dengan optimal dan efisien; mengurangi waktu pelayanan kapal; mengoptimalkan waktu kedatangan dan keberangkatan; mengoptimalkan biaya bahan bakar, emisi, dan berthing; mengurangi kedatangan dan keberangkatan yang tidak sesuai jadwal; serta meminimalkan turnaround time.

Waktu pelayanan kapal adalah waktu yang dihabiskan di pelabuhan (tidak termasuk waktu kedatangan dan keberangkatan), yang mencakup antrean, docking kapal, dan waktu bersandar. Pada waktu tersebut, kapal tidak bisa beroperasi sehingga dianggap idleBerthing plan hadir untuk meminimalkan waktu idle sehingga proses berthing tetap lancar. 

Kemudian, berthing plan juga dirancang untuk mengurangi kedatangan dan keberangkatan kapal di luar waktu yang ditentukan. Adanya kapal yang terlambat atau datang lebih awal tentu akan mengganggu alur berthing pada hari tersebut. 

Kapal yang datang lebih awal akan memiliki waktu idle yang lebih lama karena menunggu kapal lain selesai berthing sehingga kurang efektif. Sementara itu, kapal yang datang terlambat akan berangkat terlambat juga sehingga mengganggu jadwal kapal setelahnya. 

Lebih lanjut, berthing plan juga mengatur optimasi penggunaan bahan bakar sehingga biaya yang dikeluarkan selama layanan berlangsung tidak membengkak serta tidak menghasilkan emisi yang berlebihan. 

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Kontainer, Fungsinya, dan Biayanya

Hal-Hal yang Memengaruhi Berthing Plan

Dalam membuat berthing plan, pihak operasional pelabuhan harus mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti Expected Time of Arrival (ETA), Expected Time of Departure (ETD), estimasi waktu berthing, estimasi perpindahan crane per kapal per berth, dan faktor eksternal (ombak dan cuaca).

ETA ditentukan oleh waktu keberangkatan kapal dari pelabuhan asal, lalu lintas sepanjang perjalanan, dan cuaca. Setiap kapal harus memiliki ETA dan ETD yang berurutan agar bisa dilayani dengan optimal. 

Kemudian, estimasi pergerakan crane per kapal per berth juga memengaruhi rencana sandar. Crane digunakan untuk membongkar dan memuat barang dari dan ke kapal. Crane harus berpindah seminim mungkin untuk menghemat waktu operasional. Alhasil, proses bongkar muat bisa berlangsung lebih cepat ketika kapal sudah bersandar. 

Lalu, faktor eksternal, seperti cuaca dan ombak, harus diproyeksikan dengan matang. Pihak operasional pelabuhan harus bisa membaca pola cuaca dan ombak untuk melihat estimasi kecepatan layanan berthing yang diberikan. 

Selain itu, tim operasional juga harus memetakan kapal-kapal yang akan berlabuh agar tidak menyebabkan kemacetan dan memperpanjang waktu idle kapal. 

Faktor yang Memengaruhi Waktu Berthing

Waktu berthing harus disusun dengan tepat dalam rencana sandar agar tidak ada kapal yang saling menunggu. Oleh karena itu, Anda harus peka terhadap faktor-faktor yang memengaruhi waktu berthing, seperti:

  • Ketersediaan berth di pelabuhan: Setiap kapal yang sudah memesan berth akan disediakan tempat tertentu di pelabuhan. Apabila kapal terlambat dan kehilangan tempat, kapal harus menunggu slot selanjutnya. 
  • Peak hour: Pelabuhan juga bisa memiliki rush hour yang membuatnya penuh dengan kapal. Semakin banyak kapal yang memesan berth, semakin panjang waktu untuk menunggu slot kosong. 
  • Jumlah barang yang akan dibongkar/dimuat serta jenisnya: Semakin banyak barang yang akan dimuat atau dibongkar, semakin lama waktu berthing yang dibutuhkan. Hal ini juga termasuk mengelola kargo rumit, seperti muatan dangerous goods
  • Kondisi cuaca dan ombak: Ombak dan angin yang kuat dapat membuat proses berthing lebih berisiko. Bahkan, jika cuaca semakin memburuk, pihak pelabuhan dapat menunda berthing sampai kondisi membaik. 
  • Ukuran kapal: Vessel besar membutuhkan tempat yang lebih luas dan air yang lebih dalam agar bisa bersandar. Namun, tidak semua pelabuhan memiliki fasilitas untuk semua jenis kapal. 

Chandra Asri Group, Solusi Kepelabuhan dan Penyimpanan Bahan Baku Petrokimia

Chandra Asri Group

Berthing plan adalah perencanaan penting yang harus disusun dengan rinci agar setiap kapal yang berlabuh bisa mendapatkan layanan sandar yang optimal dan proses bongkar muat yang cepat. Berthing plan adalah salah satu komponen krusial untuk memastikan kelancaran logistik kelautan. 

Terkait logistik kelautan dan pelabuhan, Chandra Asri Group sebagai perusahaan solusi infrastruktur, kimia, dan energi terdepan di Asia Tenggara mengoperasikan pelayanan kepelabuhan sendiri, termasuk dermaga laut dalam dan fasilitas penyimpanan bahan baku. 

Melalui PT Redeco Petrolin Utama (RPU), kami mengoperasikan sejumlah dermaga, tank farm, dan aset-aset pendukung lainnya. 

RPU yang menyediakan dua dermaga dengan kedalaman laut 10 meter yang sesuai dengan kapal berukuran 35.000 DWT dan LoA 200 meter. 

RPU juga menyediakan 72 tangki dengan total kapasitas sebesar 130.000 kiloliter, stasiun pengisian bahan bakar terpusat, sistem Customer Order Service, dan oil boom sesuai standar internasional untuk menangani tumpahan minyak. 

Jadi, Anda tidak perlu bingung memilih penyedia solusi kepelabuhan dan penyimpanan. Percayakan kebutuhan Anda pada Chandra Asri Group, #YourGrowthPartner!

Baca juga: Mengenal Stevedoring pada Shipping, Prosesnya, dan Jenisnya