Logo Chandra Asri
load shedding adalah

27-04-2026

Load Shedding: Cara Kerja, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Load shedding adalah mekanisme untuk mengurangi konsumsi energi listrik sehingga dapat didistribusikan secara merata ke seluruh masyarakat. Mekanisme ini dilakukan karena berbagai faktor dan memiliki konsekuensi yang harus dihadapi oleh pengguna energi. 

Artikel ini membahas seluk-beluk load shedding system dan dampaknya bagi masyarakat. Untuk mengetahui informasinya, selami artikel ini hingga akhir.

Apa Itu Load Shedding?

Apa Itu Load Shedding

Load shedding adalah sistem yang dijalankan ketika sumber energi listrik utama di suatu tempat tidak dapat memenuhi permintaan. Mekanismenya adalah dengan memutus jaringan sesaat, biasanya selama beberapa menit atau jam, secara terjadwal. 

Tujuan load shedding adalah untuk mencegah overload pada sumber energi listrik utama. Sistem ini termasuk manajemen beban energi yang merotasi pemadaman listrik bergilir agar konsumsi energi dapat berkurang sampai akhirnya permintaan energi dapat terpenuhi secara merata. 

Jika dianalogikan, load shedding sama dengan ketika Anda membawa satu kantung belanjaan yang berat di tangan kanan dan harus menaiki tangga hingga ke lantai tiga. Di tengah perjalanan, Anda mungkin akan berhenti sejenak untuk mengambil napas dan memindahkan posisi kantung belanja ke tangan kiri sampai akhirnya tangan kanan Anda kembali kuat setelah beristirahat. 

Load shedding memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi beban dan tekanan pada sumber energi listrik agar kebutuhan tetap terpenuhi. Sistem ini cukup sering terjadi di Afrika Selatan, India, Lebanon, Pakistan, Amerika Serikat, dan Australia.

Load shedding dapat dilakukan untuk menanggulangi kebutuhan listrik akibat bencana alam atau cuaca ekstrem, kenaikan populasi dan permintaan, krisis energi, sumber energi utama yang kurang andal, kegagalan aset energi mendadak, dan kerusakan jaringan transmisi akibat bencana. 

Meskipun hanya beberapa menit atau jam, load shedding tentu dapat berdampak pada bisnis karena mengganggu produktivitas dan layanan. 

Dapat dikatakan bahwa load shedding adalah jalan terakhir untuk menjaga pasokan listrik agar dapat tersalurkan ke beberapa bagian jaringan. Sistem ini juga melindungi jaringan listrik dari kerusakan dan gangguan pasokan energi. 

Baca juga: Captive Power Plant: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

Cara Kerja Load Shedding

Load shedding direncanakan secara strategis untuk memutus atau mengurangi aliran listrik ke area atau pengguna tertentu. Sistem ini dilakukan dalam kontrol ketat sehingga permintaan dan kapasitas tetap seimbang. 

Mekanisme ini biasanya dinegosiasikan dengan pemilik gedung. Penyedia layanan listrik akan memantau permintaan listrik dan ketika mendekati batas kapasitas atau melebihi pasokan, penyedia akan merencanakan pemutusan aliran sementara atau blackout listrik bergilir. 

Lalu, penyedia layanan akan memberikan insentif kepada pemilik gedung yang mematuhi rencana load shedding tersebut. Ketika permintaan menurun, penyedia layanan dapat memulihkan aliran listrik. 

Meski begitu, load shedding dapat terjadi secara tiba-tiba dengan memadamkan listrik secara total di area tertentu dalam waktu yang cukup singkat (rolling blackout). 

Contoh load shedding tak terencana adalah brownout (penurunan tegangan listrik secara substansial dan sementara) saat terjadi lonjakan penggunaan listrik. 

Lantas, apakah semua listrik dipadamkan ketika load shedding? Umumnya, load shedding telah dijadwalkan sehingga masyarakat tahu kapan pemadaman akan dilakukan dan bisa menyiapkan aktivitas untuk hari khusus tersebut. 

Lalu, meskipun aliran listrik dikurangi tegangannya atau dipadamkan sebentar, sejumlah gedung biasanya memiliki sistem cadangan energi atau generator sehingga proses bisnis tetap bisa berjalan. 

Jadi, gedung-gedung tersebut mungkin masih memiliki daya yang cukup untuk menyalakan internet, lampu, atau sistem kelistrikan untuk menghidupkan perangkat elektronik. 

Dampak Load Shedding

Dampak Load Shedding

Dampak load shedding tentu akan dirasakan langsung oleh pengguna karena aktivitas mereka berhenti sejenak akibat pemadaman bergilir. Walau begitu, load shedding sering kali dijadwalkan dengan presisi sehingga pengguna sudah bersiap menghadapi fenomena tersebut. 

Masyarakat dapat mengisi bensin, menarik uang, dan berbelanja sebelum hari pemadaman karena sebagian besar mesin di kota tidak akan berfungsi pada hari tersebut. Selain itu, dampak load shedding lainnya adalah sebagai berikut:

  • Berkurangnya produktivitas bisnis. 
  • Risiko kehilangan data ketika komputer dimatikan.
  • Meningkatnya harga energi karena kapasitasnya yang semakin terbatas. 
  • Berkurangnya hasil pabrik. 
  • Risiko kejahatan yang memanfaatkan tidak berfungsinya sistem keamanan pada hari pemadaman. 
  • Meningkatkan penggunaan energi fosil alternatif, seperti gas alam. 
  • Terganggunya layanan masyarakat dan aktivitas rumah tangga. 

Baca juga: Potensi Energi Terbarukan di Indonesia dan Tantangannya

Cara Mencegah dan Menghadapi Load Shedding

Load shedding system dapat dicegah dengan beberapa strategi berikut:

1. Mengembangkan Infrastruktur Lanjutan

Wilayah-wilayah yang sering terdampak load shedding harus berinvestasi pada infrastruktur energi lanjutan agar bisa memenuhi kebutuhan listrik secara seimbang. Contoh infrastruktur yang bisa dibangun adalah pembangkit listrik energi terbarukan. 

Pembangkit listrik energi terbarukan, seperti PLTS, membutuhkan sumber daya yang besar di awal, tetapi biaya operasional jangka panjangnya lebih ekonomis dibandingkan dengan energi fosil. 

Berbicara soal PLTS, Chandra Asri Group melalui Krakatau Chandra Energi (KCE) turut mendukung pengembangan infrastruktur energi lanjutan dengan menyediakan layanan pemasangan panel surya. 

Sebagai #YourGrowthPartner, KCE menawarkan empat mekanisme PLTS, yaitu Solar On-Grid, Solar On-Grid with Battery Back-Up System, Solar Off-Grid, dan Solar Hybrid

KCE telah merambah bisnis baru pada 2020 dengan pembangunan pilot project PLTS Atap berkapasitas 102 kWp. Hingga 2025, kapasitas PLTS milik KCE kini telah mencapai 11 MWp.

2. Meningkatkan Efisiensi Energi

Salah satu penyebab load shedding adalah meningkatnya permintaan energi listrik yang tidak diimbangi dengan kapasitas energi yang mencukupi. Oleh karena itu, penggunaan energi yang efisien sangat dibutuhkan agar bisa mengurangi permintaan secara keseluruhan. 

Selain mencegah load shedding, Anda juga perlu mengetahui cara menghadapinya untuk mengantisipasi pemadaman:

  • Selalu update dengan jadwal load shedding.
  • Menyiapkan baterai atau sumber energi cadangan. 
  • Pastikan daya seluruh perangkat elektronik penting, seperti ponsel dan laptop, terisi penuh. 
  • Usahakan untuk terus tersambung ke internet untuk mengetahui perkembangan load shedding di berbagai area. 
  • Siapkan air mineral dalam kemasan dan makanan yang tidak perlu dimasak.
  • Cabut kabel dari stopkontak ketika pemadaman berlangsung. 
  • Tutup pintu kulkas selama pemadaman. 
  • Cadangkan data-data penting pada sistem komputer sebelum pemadaman berlangsung. 
  • Simpan kontak darurat, seperti nomor polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans. 

Itulah informasi tentang load shedding yang bisa dipelajari. Load shedding adalah upaya pengelolaan konsumsi listrik untuk menghindari overload pada sumber energi utama. 

Untuk memastikan kapasitas listrik dapat mencukupi permintaan pengguna, pembangkit listrik tenaga energi terbarukan dapat dipertimbangkan. 

Apabila perusahaan Anda membutuhkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik operasional, hubungi Chandra Asri Group dan Krakatau Chandra Energi! Konsultasikan sekarang!

Baca juga: 12 Jenis Pembangkit Listrik: Pengertian dan Kelebihannya!