Logo Chandra Asri
mooring kapal

27-05-2026

Mengenal Mooring Kapal: Definisi, Komponen & Teknik Tambat

Dalam dunia logistik laut dan kepelabuhan, sangat wajar untuk melihat vessel “parkir” di sisi pelabuhan. Namun, kapal tidak bisa sembarangan bersandar. Salah satu proses penting yang harus dilakukan adalah mooring kapal. 

Artikel ini membahas seluk-beluk mooring kapal dan mengapa proses ini penting dalam operasi pelabuhan. Untuk itu, baca artikel ini hingga akhir. 

Apa Itu Mooring Kapal?

Mooring kapal adalah proses menambatkan kapal ke dermaga menggunakan sejumlah alat untuk menjaga kestabilan kapal selama bersandar. Biasanya, mooring kapal menggunakan tali sandar yang diikatkan ke bollard. Alhasil, kapal tetap stabil selama proses pengangkutan atau pembongkaran muatan. 

Mooring kapal dinilai lebih aman dibandingkan dengan hanya melemparkan jangkar ke dasar laut karena terikat pada paten di badan pelabuhan selama bersandar. Meski begitu, proses ini membutuhkan banyak alat, seperti rantai, pelampung, tali, dan lain sebagainya. 

Mooring kapal juga krusial ketika mengisi bahan bakar, bunkering, menurunkan atau menaikkan penumpang, ballasting, perbaikan, perawatan, serta bersinggah di berth

Setelah menyelesaikan aktivitas di pelabuhan, kapal akan melakukan unmooring, atau melepaskan tali tambat untuk melanjutkan perjalanan. 

Lantas, mengapa mooring kapal penting? Terdapat sejumlah alasan, di antaranya:

  • Menjaga stabilitas kapal agar tidak bergeser meski terhantam ombak, angin, atau arus laut. 
  • Mendukung kelancaran aktivitas di kapal dan pelabuhan. 
  • Meningkatkan efisiensi proses operasional agar selalu sesuai dengan jadwal. 
  • Mengurangi risiko kecelakaan, kapal lepas kendali, dan cedera pada pekerja. 

Baca juga: Mengenal Stevedoring pada Shipping, Prosesnya, dan Jenisnya 

Komponen Mooring Kapal

Sistem mooring kapal menggunakan sejumlah alat untuk menjaga stabilitas dan keamanan kapal, seperti:

1. Jangkar

Jangkar

Ada berbagai macam jangkar yang bisa Anda gunakan sesuai kebutuhan, seperti jangkar jamur, jangkar piramida, jangkar heliks, dan jangkar beton. 

Jangkar jamur dapat menahan hingga 5 kali bebannya. Biasanya, jangkar ini terkubur di lumpur lembut atau pasir saat proses mooring. Kemudian, jangkar piramida memiliki daya cengkeram yang kuat dan ideal di ruang yang terbatas. 

Lalu, jangkar heliks tertanam langsung ke dasar laut dan hampir tidak meninggalkan bekas kikisan sehingga lebih ramah lingkungan. Sementara itu, jangkar beton adalah pilihan yang mudah, murah, dan sederhana, tetapi bergantung pada massa yang cukup besar. 

Jangkar beton mudah dibuat karena mengandalkan kombinasi cor beton dan baja, yang bahannya bisa ditemukan di toko bangunan dengan harga terjangkau. 

Jangkar ini bergantung pada beratnya sendiri karena akan kehilangan massanya ketika berada di air asin. Itulah mengapa jangkar beton harus lebih berat ketika kering sehingga ketika masuk ke air laut, ia tidak mudah terbawa arus.

2. Pelampung dan Bendera

Pelampung dan Bendera

Sumber: National Park Service Florida

Berdasarkan standar internasional, sistem mooring kapal perlu menggunakan pelampung putih dengan garis biru. Walau begitu, kode warna setiap area mungkin berbeda. 

Selain pelampung, sistem mooring kapal juga dilengkapi dengan bendera kecil, yaitu tali berpenutup antigesekan yang menghubungkan pelampung ke haluan perahu.

3. Tali Mooring

Tali Mooring

Tali mooring atau tambat adalah komponen utama pada sistem mooring kapal. Dahulu, pelaut menggunakan tali biasa, tetapi saat ini sudah banyak tali mooring yang terbuat dari baja atau bahan sintetis berkualitas tinggi. 

Tali mooring bekerja dengan memindahkan gaya (force) dari struktur kapal ke tali tambat. Bahan dan karakteristik tali juga harus disesuaikan dengan kapal. 

Kapal besar umumnya menggunakan tali dengan kekakuan dan kekuatan tinggi karena massa dan inersianya besar, sehingga gerakan relatif kapal cenderung lebih kecil terhadap gaya eksternal tertentu. 

Inersia adalah kecenderungan alami untuk mempertahankan keadaannya, baik diam atau bergerak lurus beraturan, dan menolak perubahan kecepatan atau arah

Sebaliknya, kapal kecil lebih mudah bergerak akibat gelombang dan angin sehingga sering membutuhkan tali dengan elastisitas lebih tinggi untuk meredam beban kejut dan fluktuasi gaya tambat. 

4. Mesin Derek Tambat

Mesin derek tambat berfungsi untuk menyangga ujung tali dan mengarahkannya sesuai kebutuhan. Tali mooring biasanya dioperasikan dengan tenaga elektrohidraulik. 

Bersamaan dengan mesin derek, terdapat pula mekanisme hidraulik dan listrik yang mengoperasikannya. Mekanisme tersebut memasok energi pada mesin derek. 

5. Fender

fender kapal

Fender melindungi sisi kapal dari kerusakan saat membentur dermaga. Meskipun sudah tertambat dengan kuat, masih ada potensi benturan dengan struktur pelabuhan karena kapal cenderung mengikuti gerakan, misalnya dari ombak laut. 

Selain melindungi sisi kapal, fender juga melindungi struktur pelabuhan yang ditabrak. Jadi, fender biasanya tidak hanya ditemukan di kapal, tetapi juga di sisi dermaga. 

6. Tali Jangkar

Tali jangkar menghubungkan jangkar dengan pelampung. Komponen ini dapat terdiri dari tali, rantai, atau kombinasi keduanya. 

Baca juga: Mengenal Docking Kapal, Prosesnya, Fungsinya, dan Metodenya 

Teknik Mooring Kapal

Teknik mooring kapal ditentukan oleh kapten dan awak kapal sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Adapun metodenya adalah sebagai berikut:

1. Single Point Mooring

Teknik ini ideal ketika kapal harus bersandar di tengah laut, di mana tidak ada pelabuhan atau dermaga fisik. Teknik ini membutuhkan satu pelampung tambat yang menjaga stabilitasnya. 

Contoh pengaplikasiannya adalah ketika kapal harus singgah di struktur lepas pantai atau ketika cuaca buruk menghalangi kapal untuk sampai ke pelabuhan. 

2. Ship-to-Ship Mooring

Teknik tambatan lanjutan ini mengatur dua kapal yang berdekatan untuk saling menambat dan mengirimkan barang. Jadi, proses mooring kapal dan bongkar muat terjadi di tengah laut. 

3. Multi-Buoy Mooring

Multi-buoy mooring adalah teknik mooring kapal yang paling umum. Teknik ini menambatkan kapal ke sebuah pelampung menggunakan banyak tali tambat. Jadi, kapal akan sangat kukuh dan tidak terombang-ambing. 

4. Baltic Mooring

Teknik ini, sesuai namanya, digunakan di perairan Baltik. Hal ini disebabkan oleh kuatnya angin Laut Baltik sehingga diperlukan teknik khusus untuk menambatkan kapal. 

Baltic mooring menggabungkan dua hal, yaitu tali tambat biasa di bagian belakang kapal dan jangkar yang dilempar agak jauh dari dermaga. 

Ketika kapal mendekati dermaga, awak kapal akan melemparkan jangkar di lepas pantai. Lalu, tali tambat di bagian belakang kapal disambungkan ke rantai jangkar. Alhasil, ketika cuaca berangin, kapal tidak mudah bergeser dari dermaga atau membenturnya. 

5. Spider Mooring

Spider mooring memberikan stabilitas maksimal, di mana tali tambat dilindungi oleh jangkar atau blok tambat yang tertanam di dasar laut. Kemudian, jaring tali tambat tetap terpasang di titik tengah sehingga bentuknya seperti jaring laba-laba. 

Teknik mooring kapal ini dapat diaplikasikan ketika kapal sedang idle atau bongkar muat barang. Berkat banyaknya tali yang menambat ke jangkar, kapal tidak akan mudah terombang-ambing oleh angin laut. 

Layanan Kepelabuhan dan Penyimpanan Bahan Kimia dari Chandra Asri Group

Proses mooring kapal harus didukung dengan struktur pelabuhan yang kukuh dan andal sehingga kapal bisa beraktivitas dengan aman dan efisien. 

Terkait layanan kepelabuhan dan penyimpanan bahan kimia, Chandra Asri Group, melalui PT Redeco Petrolin Utama (RPU), mengoperasikan 2 dermaga dengan kedalaman laut 10 meter untuk kapal dengan berat maksimal 35.000 DWT dan LoA 200 meter. 

Lalu, RPU juga menyediakan 72 tangki dengan total kapasitas 130.000 kiloliter, stasiun pengisian bahan bakar terpusat, sistem customer order service untuk merencanakan pengambilan produk, dan sistem keamanan berstandar internasional. 

Percayakan kebutuhan layanan kepelabuhan dan penyimpanan bahan kimia perusahaan Anda pada Chandra Asri Group dan Redeco Petrolin Utama, #YourGrowthPartner!

Baca juga: Mengenal Berthing Plan, Tujuannya, dan Faktor Penentunya