
30-06-2026
Oleh Chandra Asri Group Editorial Team
Reshoring kini banyak diminati industri yang kesulitan mengelola rantai pasok global dan ingin mempertahankan efisiensi operasional.
Reshoring memberikan sejumlah keuntungan bagi bisnis, tetapi juga memiliki tantangan yang perlu diantisipasi. Artikel ini membahas seluk-beluk reshoring untuk bisnis. Jadi, baca artikel ini hingga akhir!
Reshoring adalah proses mengembalikan produksi ke perusahaan di negara asal. Reshoring merupakan kebalikan dari offshoring, yaitu proses manufaktur produk di luar negara asal untuk mengurangi biaya sumber daya manusia dan operasional.
Dalam konteks logistik, reshoring diartikan sebagai pemindahan pusat distribusi, gudang, atau fasilitas manufaktur agar lebih dekat dengan basis pelanggan. Tujuannya adalah untuk memangkas waktu pengiriman dan memantau rantai pasok dengan lebih mudah.
Terdapat beberapa alasan mengapa banyak bisnis kini memilih reshoring, alih-alih terus menggunakan outsourcing di negara lain, di antaranya:
Baca juga: Tujuan Manajemen Rantai Pasok dan Metode Pendekatannya

Jika berbicara soal offshoring dan reshoring, offshoring mungkin memberikan manfaat operasional bagi bisnis, seperti efisiensi biaya tenaga kerja dan produksi.
Namun, reshoring bisa menguatkan ekonomi, seperti membuka lebih banyak lapangan kerja regional dan membantu menyeimbangkan defisit perdagangan (ekspor dan impor).
Skema reshoring dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan asalkan bisnis dikelola dengan optimal. Perpindahan dari offshoring ke reshoring memerlukan perencanaan yang matang, termasuk pada rancangan biaya dan logistik.
Manajemen yang kurang mulus malah akan menambah kerugian pada perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan biasanya menggandeng konsultan khusus reshoring untuk membahas rencana tersebut.
Reshoring membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global serta meningkatkan optimalisasi operasional. Berikut adalah sejumlah keuntungan reshoring bagi perusahaan:
Reshoring memungkinkan Anda untuk mendapatkan visibilitas rantai pasokan karena Anda dapat memantau proses produksi dan manajemen stok secara langsung. Alhasil, kecepatan dan akurasi dalam membuat keputusan bisnis meningkat.
Reshoring dapat meningkatkan efisiensi operasional karena mengurangi waktu pengiriman. Tidak hanya itu, menempatkan bisnis kembali ke negara asal juga memudahkan Anda untuk menjawab permintaan pasar.
Dengan membawa manufaktur kembali ke area lokal, Anda dapat melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kualitas dan standar produksi. Kemudian, bisnis juga dapat menjaga konsistensi kualitas produk dan memastikan kepatuhan perusahaan terhadap peraturan.
Salah satu manfaat penting reshoring adalah dapat mengurangi biaya transportasi. Anda bisa lebih menghemat biaya karena pengirimannya menjadi lebih dekat.
Reshoring dapat meningkatkan ketahanan rantai pasok dengan mempersingkat prosesnya dan mengurangi paparan terhadap disrupsi global.
Anda memiliki lebih banyak kontrol terhadap logistik, produksi, dan sumber daya lainnya sehingga bisa memitigasi risiko yang berkaitan dengan disrupsi rantai pasok. Bisnis juga bisa lebih cepat beradaptasi dengan perubahan permintaan pasar.
Baca juga: Manajemen Logistik: Pengertian, Fungsi dan Komponennya!

Meski reshoring memberikan banyak keuntungan bagi bisnis, Anda perlu mengantisipasi tantangan dalam menerapkannya. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Salah satu tantangan yang mungkin dirasakan bisnis yang berpindah dari offshoring adalah biaya tenaga kerja. Saat melakukan offshoring, perusahaan dapat menghemat biaya tenaga kerja dengan outsourcing sumber daya manusia di negara tertentu.
Tidak hanya itu, jumlah tenaga kerja yang terampil mungkin tidak sebanyak di wilayah lain sehingga Anda harus melakukan training lanjutan atau menerapkan strategi ketenagakerjaan lainnya.
Biaya pemindahan manufaktur dari suatu negara ke negara asal tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih lagi, Anda mungkin perlu menambah peralatan baru dan melatih tenaga kerja lokal agar bisa mengikuti proses operasional yang sudah ditetapkan.
Jadi, perusahaan harus merencanakan anggaran dengan matang dan siap merogoh dana yang besar untuk melakukan reshoring.
Tidak hanya berinvestasi pada tenaga kerja, perusahaan juga perlu berinvestasi pada pengembangan fasilitas baru. Anda perlu mencari pemasok peralatan dan bahan baku yang andal serta dapat memenuhi standar kualitas yang sudah berlaku.
Jika tidak ada fasilitas infrastruktur yang sesuai, perusahaan mungkin perlu mengimpornya dari negara lain. Hal ini tentu bisa membebani biaya operasional.
Memastikan rantai pasok berjalan dengan mulus, baik di dalam maupun di luar negeri, adalah salah satu hal yang harus diprioritaskan dalam bisnis. Proses logistik produk dan bahan baku harus direncanakan dengan matang, terlebih jika Anda berencana mendistribusikan bahan kimia karena memerlukan penanganan khusus.
Chandra Asri Group, sebagai perusahaan solusi infrastruktur, energi, dan kimia terdepan di Asia Tenggara, mengelola logistik laut dan darat khusus bahan kimia andal.
Melalui anak usahanya, yaitu PT Chandra Daya Shipping International (CSI), PT SCG Barito Logistics (SBL), PT Chandra Cold Chain (CCC), dan PT Chandra Warehouse Cilegon (CWC), kami memastikan bahan kimia dan gas sampai ke tujuan dengan aman.
CSI saat ini memiliki 10+ kapal pengangkut LPG dan bahan kimia dengan kapasitas sekitar 4.200–9.600 DWT. Angka ini dapat bertambah seiring berjalannya waktu.
Kemudian, kami juga memiliki 200+ armada truk dengan berbagai jenis, 700+ pallet positions, serta mengelola gudang dengan luas total mencapai 51K+ m² yang dikelola oleh SBL, CCC, dan CWC.
Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir dan bingung dalam mendistribusikan bahan baku kimia dari satu tempat ke tempat lain sembari mempertahankan kualitasnya.
Jadi, percayakan kebutuhan logistik perusahaan Anda pada Chandra Asri Group, #YourGrowthPartner!
Baca juga: Shipping Cost: Definisi, Faktor Penentu, & Cara Menghitungnya