Logo Chandra Asri
port congestion

22-06-2026

Port Congestion: Definisi, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Globalisasi telah meningkatkan aktivitas perdagangan internasional dan pergerakan barang antarnegara. Sebagai salah satu jalur utama ekspor dan impor, pelabuhan berperan penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang. 

Fungsi pelabuhan salah satunya adalah sebagai titik distribusi logistik. Masalahnya, pelabuhan rentan mengalami port congestion yang bisa menghambat perputaran bisnis. Apa itu port congestion dan apa saja penyebabnya? Pelajari informasi selengkapnya berikut ini. 

Apa Itu Port Congestion?

Apa Itu Port Congestion

Port congestion adalah keadaan di mana pelabuhan tidak lagi mampu mengelola volume kargo dan kapal yang masuk sehingga prosesnya melambat dan menimbulkan antrean panjang. 

Port congestion biasanya terjadi karena kelebihan kapasitas. Saat terjadi port congestion, kapal tidak bisa langsung bersandar di pelabuhan atau berthing area dan harus mengantre di luar hingga tersedia tempat bersandar. Akibatnya, kontainer tertahan lebih lama, proses pengiriman terlambat, dan terjadi disrupsi rantai pasok. 

Akibat permasalahan ini, perusahaan mungkin akan meningkatkan freight cost (biaya pengiriman barang). Kapal yang terimbas port congestion akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bongkar muat.

Waktu tunggunya juga lebih lama dengan perputaran kontainer yang melambat pula. Hal ini dapat berakibat pada kenaikan biaya operasional kapal sehingga akan berdampak pada freight cost

Baca juga: Pentingnya Infrastruktur Pelabuhan untuk Perdagangan Maritim

Penyebab Port Congestion

Port congestion dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik dari luar maupun dari dalam pelabuhan. Berikut adalah beberapa faktornya:

1. Jumlah Kontainer yang Terlalu Banyak

Salah satu faktor yang paling umum dari port congestion adalah terlalu banyak kontainer yang masuk dalam rentang waktu tertentu. Biasanya, jumlah kontainer meningkat di peak season, meskipun juga bisa terjadi di momen tertentu lainnya. 

Ketika banyak kontainer masuk ke pelabuhan dalam waktu singkat, kapasitas fasilitas bongkar muat dan area penumpukan akan kewalahan. Akibatnya, proses bongkar muat berlangsung lebih lambat dan terjadi penumpukan kontainer di area pelabuhan.

Lebih lanjut, jumlah kontainer yang masuk ke pelabuhan belakangan ini terus mengalami peningkatan, terlebih semenjak e-commerce dan perdagangan internasional berkembang sangat masif. 

Oleh karena itu, pihak pelabuhan harus bisa mengatur jumlah kontainer yang masuk setiap harinya agar tidak terjadi antrean panjang. 

2. Keterbatasan Infrastruktur

Keterbatasan infrastruktur juga menjadi penyebab port congestion. Pelabuhan harus memiliki alat dan gudang yang memadai agar bisa mengelola barang yang masuk ke pelabuhan, seperti forklift dan crane

Selain peralatan, pelabuhan juga membutuhkan banyak area sandar, khususnya pelabuhan yang selalu sibuk. Lalu, pelabuhan harus terus memperbarui sistem dan peralatannya agar tetap bisa memenuhi permintaan logistik dari masa ke masa. 

3. Antrean Kapal

Kapal yang masuk ke area pelabuhan tidak bisa langsung bersandar karena memiliki giliran atau jadwal tersendiri. Semakin panjang antrean kapal, semakin lama waktu tunggu yang dibutuhkan dan berisiko memperlambat proses bongkar muat.

4. Penjadwalan yang Tidak Teratur

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kapal akan masuk ke pelabuhan sesuai dengan jadwal dan gilirannya. Namun, jika koordinasi kedatangan dan keberangkatan kapal berantakan, proses operasional dapat terhenti dan kapal-kapal lainnya akan mengantre lebih lama. 

5.  Kekurangan Tenaga Kerja

Penyebab port congestion juga bisa berasal dari sumber daya manusia. Perlu diketahui bahwa pelabuhan bukanlah area kosong, melainkan penuh dengan peralatan dan sistem yang harus dioperasikan oleh tenaga ahli. 

Apabila pelabuhan sedang kekurangan tenaga kerja, proses operasional akan melambat sehingga kapal dan kontainer akan mengantre panjang. 

Kemudian, aksi mogok kerja atau proses operasi pelabuhan yang kurang efisien juga bisa menjadi penyebab port congestion karena menghambat proses penanganan kargo. 

6. Cuaca dan Faktor Lainnya

Pengiriman jalur laut sangat rentan terhadap faktor cuaca. Misalnya, ketika badai atau angin topan terjadi, proses operasional mungkin akan dihentikan selama beberapa waktu. 

Akibatnya, jadwal yang sudah ditetapkan akan terus mundur sehingga menyebabkan keterlambatan. Tidak hanya cuaca, proses distribusi juga dapat terdampak oleh kondisi geopolitik, seperti perang dan konflik antarnegara.

Dampak paling buruk dari kondisi geopolitik ini adalah kerusakan infrastruktur pelabuhan atau penghentian proses operasional demi keamanan para pekerja di pelabuhan. 

Dampak Port Congestion Terhadap Pengiriman

Dampak Port Congestion Terhadap Pengiriman

Port congestion dapat menjadi masalah bagi rantai pasok, bisnis, pengirim, hingga pelanggan. Berikut adalah dampak port congestion terhadap pengiriman:

1. Peningkatan Biaya

Pihak pelabuhan seringkali menaikkan biaya pengiriman untuk mengelola permintaan agar tidak terjadi port congestion. Bisnis-bisnis yang kontainernya singgah melebihi waktu yang ditentukan juga akan dikenakan biaya demurrage

Port congestion memunculkan biaya-biaya tak terduga bagi bisnis sehingga mereka perlu menaikkan biaya pengiriman. 

2. Keterlambatan Pengiriman

Dampak yang paling terasa dari port congestion adalah keterlambatan pengiriman. Kargo akan tertahan di pelabuhan selama waktu yang tak menentu sehingga jadwal pengiriman bisa terganggu. Alhasil, kepuasan pelanggan dan reputasi bisnis dipertaruhkan. 

3. Disrupsi Rantai Pasok

Manajemen rantai pasok yang terstruktur berperan sangat signifikan terhadap proses bisnis. Namun, port congestion bisa mengganggu jadwal yang sudah ditetapkan sehingga proses operasional tidak lagi efisien. 

4. Keterbatasan Kontainer

Port congestion dapat membuat kontainer tertahan lebih lama di pelabuhan sehingga tidak bisa digunakan kembali pada waktu yang sudah ditentukan. Kapal-kapal yang memuatnya juga terlambat bongkar muat sehingga banyak kontainer kosong yang tidak bisa sampai ke lokasi yang membutuhkan. 

Baca juga: Breakwater Pelabuhan: Definisi, Fungsi, dan Jenisnya 

Cara Menghindari Port Congestion

Port congestion dapat mengganggu proses bisnis karena mendisrupsi timeline yang sudah ditetapkan. Untuk menghindarinya, Anda bisa melakukan beberapa persiapan, di antaranya:

  • Merencanakan pengiriman: Beberapa momen port congestion bisa diprediksi, misalnya ketika peak season. Jadi, Anda harus lebih cermat dalam menjadwalkan pengiriman dan sebisa mungkin menghindari peak season
  • Memantau pengiriman secara real time: Gunakan perangkat pemantauan otomatis dan real time untuk mengidentifikasi isu selama pengiriman. Alhasil, Anda bisa mengantisipasi keterlambatan dan merencanakan perubahan rute dengan segera. 
  • Diversifikasi mode transportasi: Anda bisa memilih moda transportasi udara untuk mencegah keterlambatan dan transportasi darat untuk menjangkau area-area yang lebih spesifik. 
  • Menyiapkan kebutuhan bea cukai: Kepabeanan adalah salah satu penyebab port congestion. Untuk membantu mempercepat prosesnya, Anda harus menyiapkan dokumentasi yang akurat dan lengkap.

Chandra Asri Group, Solusi Kepelabuhan dan Penyimpanan Bahan Kimia Andal di Asia Tenggara

Proses logistik adalah salah satu alur bisnis yang harus dikerjakan secara efisien agar barang sampai ke pelanggan dengan aman dan tepat waktu. 

Jika perusahaan Anda membutuhkan solusi kepelabuhan dan penyimpanan bahan kimia tepercaya dan andal, Chandra Asri Group bisa menjadi pilihan. 

Melalui PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPN) dan PT Redeco Petrolin Utama (RPU), kami mengoperasikan dermaga dan fasilitas penyimpanan bahan baku industri dan produk petrokimia olahan. 

CPN adalah anak usaha Chandra Asri Group yang mengoperasikan lahan seluas lebih dari 35 hektar di area Cilegon. Di sini, terdapat 3 dermaga, yaitu dermaga A (kapal kapasitas 80.000 DWT) untuk menampung LP propylene, Py-Gas, dan nafta, dermaga B (kapal kapasitas 6.000 DWT) untuk HP propylene, LPG, dan nafta, serta dermaga C (kapal kapasitas 10.000 DWT) untuk etilena, Py-Gas, raffinate-1, butadiena, nafta, dan PFO. 

Lalu, CPN juga mengelola 50+ tangki dengan total kapasitas 500.000+ m3, termasuk tangki atmosferik dan tangki bertekanan. 

Lebih lanjut, RPU melayani 2 dermaga dengan kedalaman laut 10 meter untuk kapal dengan berat maksimal 35.000 DWT dan LOA 200 meter. 

Kemudian, RPU juga mengoperasikan 70+ tangki dengan kapasitas 125.000+ kiloliter, stasiun pengisian bahan bakar terpusat, sistem customer order service, dan praktik keselamatan berstandar internasional. 

Jadi, jangan ragu untuk memercayakan keperluan kepelabuhan dan penyimpanan bahan kimia pada Chandra Asri Group, #YourGrowthPartner!

Baca juga: Mengenal Berthing Plan, Tujuannya, dan Faktor Penentunya