
30-06-2026
Oleh Chandra Asri Group Editorial Team
Ada banyak cara untuk mengurangi emisi karbon yang dapat dilakukan oleh instansi dan masyarakat, salah satunya adalah carbon offset. Skema ini memungkinkan perusahaan atau individu untuk mendanai proyek karbon terverifikasi yang menghasilkan pengurangan atau pencegahan emisi gas rumah kaca (GRK).
Artikel ini membahas carbon offsetting, termasuk cara kerja, manfaat, serta perannya dalam mitigasi perubahan iklim dan menjaga keasrian Bumi.
Apa sebenarnya itu carbon offset? Mengapa carbon offset tetap menjadi opsi dalam strategi dekarbonisasi perusahaan? Untuk memahami konsepnya secara mendalam, baca artikel ini sampai tuntas.
Realitanya, dalam upaya dekarbonisasi, masih terdapat emisi gas rumah kaca (GRK) yang sulit dihilangkan sepenuhnya dari aktivitas operasional atau bisnis. Emisi ini biasanya dikenal sebagai “emisi residual”.
Untuk mengimbangi emisi residual tersebut, perusahaan dapat memanfaatkan carbon offset, yaitu mekanisme kompensasi emisi melalui pembelian kredit karbon dari proyek-proyek yang menghasilkan pengurangan atau penyerapan emisi GRK.
Proyek pengurangan atau penyerapan emisi GRK yang disebutkan tadi dikenal sebagai proyek karbon. Proyek ini dapat dikembangkan oleh berbagai pihak, baik pihak eksternal maupun internal perusahaan itu sendiri.
Untuk memastikan integritas dan keabsahannya, proyek karbon harus menjalani proses validasi dan verifikasi oleh lembaga independen sesuai dengan standar dan metodologi yang berlaku.
Setelah proses tersebut selesai dan disetujui, kredit karbon kemudian dicatat dalam sistem buku besar karbon (registri) untuk kemudian dapat diterbitkan dan diperjualbelikan.
Perusahaan ataupun individu dapat membeli kredit karbon melalui pasar karbon, yaitu tempat berlangsungnya transaksi jual beli kredit karbon. Di Indonesia, transaksi kredit karbon dapat dilakukan melalui IDXCarbon yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lebih lanjut, penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data menyebutkan bahwa kredit karbon telah berkembang menjadi salah satu mekanisme penting dalam menyalurkan pendanaan bagi berbagai upaya mitigasi perubahan iklim di seluruh dunia.
Baca juga: Laporan Keberlanjutan Chandra Asri Group Terbaru

Carbon offset memainkan peran yang cukup signifikan dalam mengurangi emisi karbon di atmosfer. Adapun sejumlah alasan pentingnya carbon offset adalah sebagai berikut:
ESG (Environmental, Social, and Governance) telah menjadi salah satu pertimbangan utama bagi perusahaan, investor, dan pemangku kepentingan dalam menilai kinerja keberlanjutan organisasi.
Melalui carbon offset, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya dalam mengelola dampak lingkungan sekaligus mendukung berbagai proyek yang berkontribusi pada pengurangan atau penyerapan emisi GRK. Langkah ini dapat melengkapi strategi keberlanjutan yang lebih luas, termasuk target dekarbonisasi dan net-zero emissions.
Dengan begitu, perusahaan dapat menciptakan aktivitas bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap isu perubahan iklim.
Meskipun berbagai upaya efisiensi energi dan pengurangan emisi telah dilakukan, masih terdapat emisi residual yang sulit atau belum dapat dihilangkan sepenuhnya karena keterbatasan teknologi, operasional, maupun faktor ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, carbon offset dapat menjadi solusi pelengkap dengan mengarahkan pendanaan ke proyek-proyek yang menghasilkan pengurangan, penghindaran, atau penyerapan emisi GRK sehingga membantu mengompensasi emisi yang masih tersisa.
Pembelian kredit karbon membantu menyalurkan pendanaan ke berbagai proyek mitigasi perubahan iklim, seperti konservasi dan restorasi hutan, pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga teknologi penangkapan karbon.
Dengan demikian, carbon offset tidak hanya memberikan manfaat bagi pembeli kredit karbon, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan berbagai solusi iklim yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat (co-benefits).
Komitmen terhadap carbon offset dan berbagai inisiatif pengurangan emisi mencerminkan keseriusan perusahaan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Selain membantu memenuhi ekspektasi investor, pelanggan, dan regulator, langkah ini juga dapat meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan serta memperkuat reputasi perusahaan sebagai organisasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
Secara umum, cara kerja carbon offset adalah sebagai berikut:
Baca juga: 9 Tips Pengolahan Sampah Plastik yang Efektif

Secara umum, proyek karbon dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu solusi iklim berbasis alam (Nature-Based Solutions atau NBS) dan solusi iklim berbasis teknologi (Technology-Based Solutions atau TBS). Berikut adalah beberapa contoh proyeknya:
Jenis proyek carbon offset yang pertama adalah pengolahan limbah. Terdapat banyak cara untuk mengolah limbah, seperti penguraian limbah di tempat pembuangan sampah serta pengolahan limbah pertanian.
Inti dari proyek pengolahan limbah adalah untuk mengurangi, menghancurkan, atau memanfaatkan kembali gas metana yang dihasilkan dari kotoran hewan atau sampah.
Gas metana terbentuk ketika bahan organik, seperti sisa makanan, limbah pertanian, atau kotoran ternak, terurai melalui proses anaerob, yaitu penguraian oleh mikroorganisme dalam kondisi minim atau tanpa oksigen.
Apabila tidak dikelola dengan baik, metana yang dilepaskan ke atmosfer dapat memberikan dampak pemanasan global yang signifikan karena memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.
Melalui teknologi dan metode pengelolaan yang tepat, gas metana dapat ditangkap, dihancurkan (flaring), atau dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pemanfaatan tersebut dapat berupa pembangkit listrik, bahan bakar alternatif, maupun biogas untuk kebutuhan rumah tangga dan industri.
Mengembangkan hutan (aforestasi) atau menghidupkan kembali hutan yang sudah ditebang (reforestasi) juga dapat menjadi proyek karbon. Sebagai informasi, menurut laporan dari MIT, hutan dapat menyimpan 10–1.000 ton karbon per hektare.
Jadi, aforestasi dan reforestasi diharapkan dapat menghidupkan kembali ekosistem hutan untuk menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer. Proyek reforestasi juga berpotensi mengembalikan keanekaragaman hayati yang sempat hilang akibat penebangan hutan.
Seiring berkembangnya zaman, berbagai inovasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca terus bermunculan, salah satunya adalah carbon capture and storage (CCS).
Dalam konteks kredit karbon, beberapa proyek CCS yang memenuhi persyaratan metodologi tertentu dapat menghasilkan kredit karbon melalui penangkapan dan penyimpanan CO₂ secara permanen.
Perusahaan dapat berinvestasi pada proyek yang mendukung pengembangan energi terbarukan, seperti PLTA, PLTB, hingga PLTS. Proyek ini termasuk proyek offset yang telah banyak dikembangkan di berbagai negara untuk menggantikan energi berbasis bahan bakar fosil.
Chandra Asri Group menerapkan strategi ABCD dalam memitigasi dampak perubahan iklim dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Berikut adalah rinciannya:
Ke depannya, Chandra Asri Group terus mengembangkan dan berinvestasi dalam berbagai inisiatif pengurangan emisi dan kredit karbon guna mendukung pencapaian target iklim.
Tidak terbatas pada emisi karbon, sebagai #YourGrowthPartner, kami juga menerapkan pendekatan terhadap keberlanjutan, seperti:
Demikian informasi soal carbon offset yang bisa Anda pelajari. Proses operasional industri memanglah penting, namun upaya untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan juga menjadi tanggung jawab yang tidak kalah penting.
Itulah mengapa muncul banyak mekanisme keberlanjutan yang bisa diimplementasikan guna mendukung kelestarian lingkungan.
Chandra Asri Group, sebagai perusahaan solusi kimia, energi, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara, berkomitmen untuk tidak hanya memberikan layanan dan produk terbaik, tetapi juga bertanggung jawab atas keberlanjutan lingkungan sesuai dengan prinsip ekonomi sirkular dan ESG.
Baca juga: Ekonomi Sirkular: Definisi, Fungsi dan Penerapannya!