Logo Chandra Asri
Wartini, kader penggerak di IPST ASARI

01-04-2026

Langkah Sunyi Bu Titin yang Mengubah Cara Warga Memaknai Sampah

Perubahan sering kali berawal dari hal-hal sederhana di rumah. Dari mulai memilah sampah sebelum dibuang, hingga mengumpulkan minyak jelantah sisa memasak untuk kembali diolah. 

Di lingkungan tempat Titin tinggal, kebiasaan kecil seperti ini perlahan tumbuh dan menyebar dari satu rumah ke rumah lain. Di balik perubahan itu, ada sosok ibu rumah tangga yang bergerak dengan cara sederhana—tidak banyak bicara, tapi konsisten memberi contoh nyata.

Namanya Wartini, dia adalah seorang kader penggerak di Industri Pengelolaan Sampah Terpadu (IPST) ASARI yang difasilitasi oleh PT Chandra Asri pacific Tbk. (Chandra Asri Group). Warga sekitar lebih akrab memanggilnya Ibu Titin. Kesehariannya sederhana, seperti kebanyakan perempuan lain, dia menyibukkan dirinya dengan mengurus rumah, berinteraksi dengan tetangga, dan aktif dalam kegiatan warga. Tidak ada jarak antara dirinya dan masyarakat di sekitar. Dari kedekatan itulah, pengaruhnya tumbuh.

"Saya seorang ibu rumah tangga, kesibukan sehari-hari sama saja dengan Ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Saya sudah lama mengumpulkan sampah dan memilah sampah di rumah bahkan sebelum bergabung dengan IPST ASARI," kata Titin mengawali ceritanya

Pertemuannya dengan program IPST ASARI semakin menguatkan langkahnya. Bagi Titin, program ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi juga cara efektif untuk mengubah perilaku masyarakat. 

Melalui kegiatan pengajian di Majelis Taklim Babussalam, Titin mulai mengajak ibu-ibu lain untuk ikut memilah sampah. Edukasi dilakukan secara perlahan, melalui pendekatan yang sederhana dan dekat dengan keseharian. 

“Sering-sering dilakukan edukasi kepada ibu-ibu, bahwa dari kebiasaan memilah sampah itu banyak sekali manfaatnya. Sehingga ibu-ibu jadi tertarik,” jelasnya.

Tak hanya mengajak, Titin juga turun langsung memberi contoh. Ia percaya, perubahan tidak cukup hanya dengan imbauan. “Kalau cuma woro-woro tanpa memberikan contoh langsung, agak susah. Jadi dari saya dulu mulai,” Ujar Titin.

Dari situ, kebiasaan baru mulai tumbuh. Bahkan, setelah selesai pengajian kini juga menjadi ruang untuk mengumpulkan sampah terpilah yang kemudian diangkut oleh tim IPST ASARI dua kali dalam seminggu.
Langkah Titin dalam mengubah perilaku masyarakat untuk memilah sampah tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar, menurut Titin, adalah mengubah pola pikir masyarakat yang menganggap memilah sampah sebagai hal yang merepotkan.

“Mengubah perilaku itu tidak mudah. Banyak yang bilang ribet harus dipilah-pilah,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tidak menyerah. Dengan pendekatan bertahap dan konsisten, perubahan mulai terlihat. Kini, sebagian besar warga sudah terbiasa memilah sampah dari rumah. “Alhamdulillah sekarang setiap rumah sudah mau memilah sampah,” katanya.

Perubahan ini terasa kontras jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, di mana sampah rumah tangga langsung dibuang tanpa pemilahan. Bagi Titin, dampak dari perubahan ini sangat nyata. Lingkungan menjadi lebih bersih, dan warga pun merasa terbantu karena sampah yang sudah dipilah akan diambil oleh tim IPST ASARI.

“Lingkungannya jadi lebih bersih dan nyaman, dan kita merasa terbantu karena ada tim yang mengambil,” ujarnya.

Dari semua yang telah ia lakukan, ada satu hal yang paling berkesan baginya: melihat perubahan perilaku masyarakat. 

“Saya merasa senang, Alhamdulillah berarti berhasil mengubah perilaku masyarakat. Bangga sekali,” tutur Titin.

Di balik keberhasilan itu, ada kolaborasi yang terus dijaga antara masyarakat, kader seperti Titin, dan dukungan dari Chandra Asri melalui IPST ASARI. Edukasi yang dilakukan secara konsisten menjadi kunci agar perubahan ini tidak berhenti di tengah jalan.

“Kalau edukasi berhenti, masyarakat bisa kembali ke kebiasaan lama,” ujar Titin.

Ketua IPST ASARI Murad M Yasin, menilai bahwa peran kader seperti Titin menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kebiasaan baru di masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa terjadi secara instan, melainkan membutuhkan cara yang dekat dengan keseharian warga. Karena itu, keterlibatan kader di tingkat komunitas menjadi jembatan penting antara program dan masyarakat.

“Perubahan yang kita lihat sekarang tidak lepas dari peran kader di lapangan. Mereka yang setiap hari bersentuhan langsung dengan warga, menyampaikan edukasi dengan cara yang sederhana dan mudah diterima,” ujarnya.

Murad mengatakan, selain mengelola sampah plastik, IPST ASARI juga memiliki focus untuk bisa membangun kesadaran bersama agar kebiasaan memilah sampah bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Yang paling penting adalah menjaga konsistensi. Karena perubahan perilaku itu butuh waktu, dan harus terus didampingi. Kalau edukasinya berhenti, biasanya kebiasaan lama bisa kembali lagi,” tambahnya.

Banner
Baca Berita Lainnya
Wartini, kader penggerak di IPST ASARI
01-04-2026

Langkah Sunyi Bu Titin yang Mengubah Cara Warga Memaknai Sampah

Pelaksanaan program Salat Tarawih Berkunjung Chandra Asri di wilayah Cilegon
10-03-2026

Chandra Asri Group Gelar Tarjung Ramadan, Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat Cilegon dan Serang

Penyaluran bantuan untuk warga Cilegon yang terdampak banjir
14-01-2026

Chandra Asri Group Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Banjir untuk Warga Kota Cilegon