Logo Chandra Asri
solvent adalah

24-07-2026

Apa Itu Solvent? Ini Jenis dan Kegunaannya di Industri

Oleh Chandra Asri Group Editorial Team

Solvent adalah cairan yang sering digunakan pada proses industri petrokimia dan lainnya. Peran cairan solvent adalah untuk melarutkan zat lain. Dalam proses manufaktur, aseton, etanol, dan bahkan air dapat digunakan sebagai pelarut industri. Lalu, bagaimana solvent bekerja dan apa saja jenisnya? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Apa Itu Solvent?

Solvent (pelarut) berperan untuk melarutkan zat menjadi larutan. Pelarut dapat ditemukan di banyak produk yang ada di pasaran, seperti parfum, semprotan aerosol, dan perekat. Pelarut yang paling umum digunakan di industri adalah air, kerosin, aseton, dan etanol. 

Pelarut dapat berasal dari hidrokarbon atau hidrokarbon aromatik. Tugas utama solvent adalah sebagai media sintesis kimia, pelarut, dan pembersih industri. 

Solvent telah digunakan sejak zaman prasejarah. Bangsa Mesir Kuno menggunakan pelarut untuk membuat kosmetik dan balsem. Kemudian, bangsa Asyur menggunakan etanol untuk pengobatan. 

Bangsa Romawi Kuno menggunakan amonia dan alkali untuk membersihkan noda pakaian. Pada saat inilah tercipta metode cuci kering, di mana pakaian tidak dicuci dengan air, melainkan dengan pelarut karena air bisa merusak kain yang sangat halus. Pelarut dapat menghilangkan noda tanpa merusak kain. 

Terobosan ini terus dikembangkan hingga tahun 1825, ketika Jean-Baptiste Jolly menyadari bahwa tumpahan minyak lampu pada taplak meja justru membantu menghilangkan noda tanpa merusak kain. Dari kejadian itulah lahir metode cuci kering modern, di mana Jolly menggunakan kamfena (cairan terpentin yang digunakan sebagai minyak lampu) untuk menghilangkan noda pada pakaian.

Meski begitu, banyak pelarut sangat mudah terbakar, termasuk zat yang digunakan dalam metode cuci kering. Itulah mengapa binatu di area padat penduduk dibatasi. Namun, pada tahun 1930-an, binatu mengembangkan pelarut yang tidak mudah terbakar, yaitu perchloroethylene atau perc, meskipun tidak direkomendasikan karena karsinogenik.

Perlu diketahui bahwa sebagian besar pelarut beracun bagi hewan dan manusia. Beberapa di antaranya berbahaya jika diminum atau disentuh. Itulah mengapa pelarut harus disimpan dan diolah secara khusus untuk mengurangi risiko bahaya.

Baca juga: Laporan Tahunan Chandra Asri Group

Cara Kerja Solvent

Cara Kerja Solvent

Solvent adalah cairan apa pun yang dapat melarutkan zat lain. Bahan yang larut dinamakan zat terlarut, sedangkan hasilnya dinamakan larutan. Proses pelarutan terjadi melalui interaksi fisik antara molekul pelarut dan zat terlarut. 

Molekul zat akan memutus atraksi antarmolekul dan membentuk atraksi baru dengan molekul pelarut. Proses ini memisahkan molekul zat terlarut dan menyebarkannya di antara molekul pelarut. Namun, zat terlarut tidak akan kehilangan molekulnya. 

Apabila gaya antarmolekul zat terlalu kuat, ia tidak akan dapat membentuk atraksi dengan molekul pelarut. Artinya, zat tersebut tidak larut (insoluble). Sebaliknya, jika molekul pelarut bisa mematahkan atraksi molekul zat terlarut, maka ia termasuk zat larut (soluble). 

Fungsi solvent adalah untuk membuat larutan, tetapi fungsi sekundernya tergantung pada tujuan penggunaan larutan. Misalnya, pelarut pada cat dan pelapis digunakan untuk membawa zat terlarut. Nantinya, pelarut akan menguap dan meninggalkan lapisan cat atau pelapis pada permukaan. Cat dan pelapis harus dalam keadaan cair hingga akhirnya diaplikasikan pada permukaan seperti dinding. 

Sama halnya dengan pelarut pada perekat, ketika perekat diaplikasikan pada permukaan, pelarut akan menguap dan perekat akan mengeras. 

Kemudian, jika berbicara soal produk yang mengandung pelarut, Anda mungkin akan menemukan label “solvent-based”, misalnya pada solvent-based paint. Sebagian besar cat memang mengandung pelarut, tetapi makna solvent-based adalah cat tersebut mengandung pelarut selain air, misalnya toluena atau terpentin. Kebalikan dari solvent-based, cat yang mengandung air akan berlabel water-based

Jenis-Jenis Solvent

Solvent terbagi berdasarkan polaritas, kandungan atom hidrogen, dan komposisi bahan kimia. Berikut adalah informasi selengkapnya:

Berdasarkan polaritas:

  • Solvent polar: Pelarut ini memiliki kutub positif dan negatif. Contoh pelarut polar adalah air. Pelarut ini berfungsi untuk melarutkan zat polar seperti garam.
  • Solvent nonpolar: Pelarut ini tidak memiliki kutub. Contoh pelarut nonpolar adalah benzena. Pelarut nonpolar berfungsi untuk melarutkan zat nonpolar, seperti lemak dan minyak.  

Berdasarkan komposisi bahan kimia:

  • Solvent organik: Pelarut ini mengandung karbon dan dapat teroksigenasi. Contohnya adalah alkohol dan keton.
  • Solvent anorganik: Pelarut ini tidak mengandung karbon. Contohnya adalah air dan amonia.

Berdasarkan kandungan atom hidrogen:

  • Solvent protik: Pelarut protik dapat mendonasikan ikatan hidrogen karena memiliki atom hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif, seperti nitrogen atau oksigen. Contohnya adalah air, etanol, metanol, dan asam asetat. 
  • Solvent aprotik: Pelarut ini tidak memiliki atom hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif sehingga tidak bisa mendonasikan ikatan hidrogen. Meski begitu, pelarut aprotik bisa menerima ikatan hidrogen. Contohnya adalah aseton dan dimetilsulfoksida. 

Baca juga: Etilena: Karakteristik, Kegunaan, Fungsi, dan Jenisnya 

Kegunaan Solvent

Kegunaan Solvent

Solvent memiliki peran penting pada produk konsumen yang digunakan sehari-hari. Berikut adalah beberapa kegunaan umumnya:

  • Cat: Pelarut melarutkan komponen pada formulasi cat sehingga memiliki konsistensi tertentu dan tidak menggumpal. Untuk cat semprot, pelarut seperti glycol ether ester ditambahkan agar cat tidak mengering di udara sebelum menyentuh permukaan. 
  • Tinta: Pelarut menjaga warna tinta tetap cerah dan memungkinkan tinta diaplikasikan secara optimal. Contoh pelarut yang sering digunakan pada tinta adalah toluena. 
  • Kosmetik: Pelarut memberikan konsistensi yang pas untuk losion, krim pencukur, dan bedak. Kemudian, aseton juga digunakan pada cairan penghapus cat kuku. 
  • Produk kebersihan: Glikol eter sering ditemukan pada pembersih lantai dan kaca. Zat ini bisa melarutkan lemak dan minyak serta memiliki kompatibilitas air yang baik. Lalu, isoparafin digunakan untuk cuci kering pakaian karena aman untuk kesehatan dan lingkungan, dapat membersihkan dengan baik dan efisien, serta tidak terlalu berbau. 
  • Farmasi: Pelarut digunakan pada berbagai macam produk farmasi dan obat-obatan. Contoh pelarut yang umum digunakan dalam industri farmasi adalah butil asetat untuk memurnikan penisilin. 
  • Otomotif: Pelarut seperti isopropil alkohol digunakan untuk menghilangkan noda dan salju pada kaca depan.

Percayakan Kebutuhan Bahan Kimia Pelarut kepada Chandra Asri Group

Solvent adalah salah satu bahan penting pada produk manufaktur karena berfungsi untuk melarutkan zat serta menjadi media reaksi kimia. Agar produk berfungsi dengan baik, diperlukan pelarut bermutu tinggi. 

Chandra Asri Group, sebagai #YourGrowthPartner dan perusahaan solusi kimia terkemuka di Asia Tenggara, menawarkan toluena, yaitu produk sampingan dari produksi stirena monomer. Toluena dapat digunakan sebagai pelarut dalam berbagai aplikasi, seperti pengencer cat. 

Selain toluena, kami juga menyediakan olefin, poliolefin, butadiena, klor-alkali, dan bahan kimia industri lainnya yang siap dimanfaatkan untuk beragam proses manufaktur. 

Chandra Asri Group juga memperluas jangkauan bersama anak usaha yang berbasis di Singapura, yaitu Aster. Aster menyediakan bahan baku kimia, mulai dari propilena hingga HDPE. 

Pastikan proses manufaktur perusahaan Anda menggunakan bahan-bahan kimia bermutu tinggi! Hubungi kami sekarang untuk meminta penawaran terbaik!

Baca juga: Klasifikasi Produk Petrokimia dan Kegunaannya di Industri

Bagikan :
Banner