Logo Chandra Asri
energi batu bara

29-07-2026

Mengenal Energi Batu Bara, Jenisnya, dan Kegunaannya

Oleh Chandra Asri Group Editorial Team

Batu bara adalah salah satu energi fosil yang memiliki peran penting dalam berbagai industri. Energi batu bara kerap digunakan pada proses manufaktur, seperti untuk menghasilkan listrik dan sebagai bahan bakar. 

Artikel ini membahas kegunaan energi batu bara dalam industri serta jenis-jenisnya. Untuk itu, pelajari informasi selengkapnya berikut ini. 

Apa Itu Batu Bara?

Apa Itu Batu Bara

Energi batu bara diperoleh dari proses pembakaran batu bara, sebuah bahan padat yang kaya akan karbon dan hidrokarbon. 50% berat batu bara diisi dengan zat berkarbon dari proses mengeras dan memadatnya fosil tumbuhan. 

Batu bara merupakan salah satu sumber energi fosil yang telah digunakan manusia sejak lama, bahkan sebelum era industri modern. Bahan ini terbentuk berabad-abad melalui proses pemadatan dan pemanasan tanaman yang telah mati di lingkungan yang kekurangan oksigen (seperti rawa). 

Akibat kekurangan oksigen, tanaman menjadi sulit terurai. Alhasil, bakteri anaerob mengubahnya menjadi bahan yang lebih sederhana, yaitu karbon. Panas dan tekanan yang tiada henti selama jutaan tahun mengubah bahan organik ini menjadi bahan sekeras batu yang mudah terbakar dan mengandung banyak karbon. Para peneliti percaya bahwa sebagian besar batu bara di dunia terbentuk pada Zaman Karbon sekitar 300 juta tahun yang lalu.

Sejak Revolusi Industri, batu bara telah digunakan secara luas untuk berbagai keperluan. Bahkan, hingga saat ini, pemanfaatan batu bara terus meningkat setiap tahunnya. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa permintaan energi batu bara dunia meningkat 1,2% pada tahun 2024, atau sekitar 67 juta ton setara batu bara (Mtce). Permintaan terbesar datang dari sektor energi listrik, yaitu sebesar dua pertiga dari konsumsi dunia. 

Pada tahun 2024, tiga negara penghasil batu bara terbesar di dunia, yaitu Tiongkok, India, dan Indonesia, mencapai rekor baru. Menurut International Energy Agency, Tiongkok, sebagai penyumbang separuh pasokan batu bara dunia, mengalami pertumbuhan produksi sebesar 1%.

Kemudian, India saat itu diprediksi mengalami kenaikan jumlah produksi hingga 7%, sedangkan Indonesia diperkirakan memproduksi lebih dari 800 Mt batu bara untuk pertama kali.

Baca juga: Energi Terbarukan: Pengertian, Jenis dan Manfaatnya!  

Jenis-Jenis Batu Bara

Batu bara secara umum dibedakan berdasarkan kandungan karbon serta jumlah energi panas yang dapat dihasilkan. Berikut adalah informasinya:

  • Antrasit: Batu bara berkualitas tinggi karena mengandung 86% hingga 97% karbon. Batu bara jenis ini memiliki nilai pemanasan tertinggi dari semua tingkatan batu bara.
  • Bituminus: Batu bara ini biasanya digunakan untuk menghasilkan energi listrik serta sebagai bahan baku pada industri baja dan logam. Bituminus mengandung 45% hingga 86% karbon.
  • Sub-bituminus: Mengandung 35% hingga 45% karbon dan memiliki nilai pemanasan yang lebih rendah dibandingkan dengan bituminus. 
  • Lignit: Batu bara ini mengandung 25% sampai 35% karbon dan memiliki nilai pemanasan yang paling rendah di antara semua batu bara di atas. Endapan batu bara ini lebih “muda” dan tidak mengalami tekanan atau panas ekstrem. Batu bara lignit memiliki kadar air yang tinggi dan bersifat rapuh.

Lebih lanjut, batu bara juga dapat dikategorikan berdasarkan tampilan makroskopis. Terdapat empat jenis utama, seperti:

  • Vitrain: Batu bara vitrain memiliki karakteristik kilau hitam, rapuh, dan mudah pecah menjadi fragmen bersudut. Vitrain tersusun atas maseral vitrinite dari jaringan kayu tanaman besar. Batu bara ini dinilai terbentuk di bawah kondisi permukaan yang agak kering.
  • Durain: Batu bara ini memiliki tekstur butiran. Jenis ini mengandung liptiniteinertinite, dan banyak mineral anorganik. Umumnya, durain berwarna hitam kusam hingga abu-abu tua. Durain diyakini terbentuk di endapan gambut di bawah permukaan air.
  • Clarain: Batu bara ini memiliki lapisan tipis berwarna hitam cerah dan kusam yang saling bergantian. Biasanya, lapisan paling terang sebagian besar mengandung vitrinite, sedangkan lapisan paling kusam mengandung liptinite dan inertinite. Kilau batu bara ini tidak seterang vitrain
  • Fusain: Batu bara ini lunak dan mudah hancur menjadi bubuk halus seperti jelaga. Fusain sebagian besar mengandung fusinit dan semifusinit dari kelompok maseral inertiniteFusain memiliki tampilan seperti arang kayu. Batu bara ini diyakini terbentuk di endapan gambut yang dilanda kebakaran hutan.

Sebagai konteks, maseral adalah partikel organik yang terkandung pada batu bara. Terdapat tiga jenis utama maseral, yaitu vitriniteliptinite, dan inertiniteVitrinite umumnya didapatkan dari jaringan kayu, sedangkan liptinite didapatkan dari bagian tanaman yang mengandung resin atau getah, seperti spora dan kutikula. Adapun inertinite berasal dari bahan tanaman yang berubah atau terdegradasi selama pembentukan gambut. 

Baca juga: 7 Contoh Energi Listrik dan Cara Menghasilkan Energinya 

Kegunaan Batu Bara

Kegunaan Batu Bara

Mungkin Anda bertanya-tanya, batu bara untuk apa? Energi batu bara digunakan oleh banyak sektor karena dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar. Adapun kegunaan batu bara adalah sebagai berikut:

1. Pembangkit Listrik

Batu bara adalah sumber energi terbesar dalam menghasilkan listrik melalui uap. Batu bara dipanaskan di dalam boiler untuk memanaskan air. Kemudian, uap akan terbentuk dan menggerakkan turbin pembangkit listrik. Energi mekanis menggerakkan generator dan menghasilkan listrik. 

2. Industri Berat

Batu bara digunakan untuk membuat baja, besi, dan semen. Fungsi batu bara adalah memanaskan tungku pada proses peleburan logam dan pengeringan semen. 

3. Industri Lainnya

Energi batu bara kerap digunakan untuk menggerakkan mesin pada industri manufaktur. Tidak hanya itu, batu bara juga dapat menjadi sumber karbon pada produksi metanol dan amonia. 

Demikian informasi tentang energi batu bara yang bisa dipelajari. Hingga saat ini, batu bara merupakan salah satu sumber energi terbesar dan memiliki peran yang sangat signifikan, khususnya untuk menghasilkan listrik. Namun, sebagai energi tak terbarukan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana batu bara dapat dikelola secara efisien dan berkelanjutan 

Melihat hal ini, Chandra Asri Group, sebagai #YourGrowthPartner, mengembangkan inovasi refuse-derived fuel (RDF) dari sampah untuk campuran bahan bakar boiler batu bara di Site Office Puloampel. RDF digunakan sebanyak 5% dari total kebutuhan energi pada boiler dengan total volume sampah yang dimanfaatkan mencapai lebih dari 60 ribu ton. 

Proyek co-firing RDF yang dilaksanakan pada Juli 2025 ini berhasil diterapkan secara komersial dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan, dengan estimasi penurunan emisi karbon ekuivalen mencapai 29,63 ton CO2. 

Baca juga: Potensi Energi Terbarukan di Indonesia dan Tantangannya 

Bagikan :
Banner